Pada perdagangan valas pukul 16.30 WIB, Rabu (17/9/2008) rupiah menguat hingga 55 poin ke posisi 9.395 per dolar AS. Rupiah melaju cepat karena pasar global tengah tenang sejenak dari badai krisis kejatuhan perusahaan-perusahaan besar di AS.
Stabilnya bunga the Fed 2% dan upaya bank sentral AS membantu AIG cukup menenangkan pelaku pasar global. Stabilnya bunga the Fed membuat selisih dalam investasi rupiah tetap memberikan tingkat imbal hasil yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"O tidak, kalau intervensi kan begini kita tidak akan bisa kalau pasar mengatakan level atau menargetkan level yang kita targetkan. Kita hanya bisa menargetkan supaya dia jangan berfluktuasi terlalu lebar. Kalau Anda lihat empat hari terakhir di stabil di tingkat atas. Itu faktor intervensinya ada supaya dia tidak ada fluktuasi," jelas Hartadi usai rapat di panitia anggaran DPR, Jakarta, Rabu (17/9/2008).
Hartadi mengaku untuk membawa rupiah kuat dengan kondisi pasar yang labil saat ini memang tidak mungkin. "Jadi kalau mau ditulis kita sekarang mau mencari keseimbangan baru untuk rupiah dan kita ikuti saja," katanya.
Hartadi juga mengaku tidak bisa komentar terhadap kondisi pasar global saat ini. "Saya tidak bisa kasih komentar karena memang gejolaknya seperti ini, kalau lihat hari ini saja pasti kaget kok justru positif, rupiah malah menguat sahamnya juga menguat. Jadi betul-betul tidak bisa ditebak," katanya. (ir/qom)











































