Pada perdagangan Rabu (17/9/2008), indeks Dow Jones ambruk hingga 449,36 poin (4,06%) ke level 10.609,66. Nasdaq merosot 109,05 poin (4,94%) ke level 2.098,85 dan Standrad & Poor's merosot 57,20 poin ke level 1.156,39.
Saham AIG yang terdilusi setelah diambil alih pemerintah AS, anjlok hingga 45% menjadi hanya 2,05 dolar. Saham-saham sektor finansial lainnya juga merosot tajam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehancuran ini berarti mengulang keruntuhan pasar saham yang sudah anjlok pada Senin awal pekan ini, setelah Lehman Brothers mengumumkan kebangkrutannya.
"Ide bahwa pemerintah mengasumsikan pemberian utang lebih banyak kepada lembaga finansial yang salah kelola apakah aman atau tidak, bukanlah sebuah pemikiran yang nyaman," ujar Patrick O'Hare dari Briefing.com seperti dikutip dari AFP, Kamis (18/9/2008).
Aaron Smith dari Economy.com mengatakan bahwa kekalutan pasar belum bisa diredam. "Perluasan gangguan pasar terus berlanjut," ujar Smith yang menekankan pada banyaknya aliran dana ke pasar minyak, emas dan obligasi berjangka pendek.
"Keprihatinan investor juga meningkat terutama terkait kemampuan The Fed mendukung pasar di masa depan karena neraca pembayaran bank sentral terkait juga berkurang," tambahnya.
Harga minyak mentah dunia kemarin melonjak hingga 6,01 dolar ke level US$ 97,16 per barel, sementara harga emas ikut menanjak. Obligasi berjangka pendek juga menjadi buruan karena dianggap sebagai tempat yang aman, sehingga yieldnya turun ke level terendahnya.
T-Bill berjangka 4 bulan hanya memiliki yield 0,245%, sementara 3 bulan hanya 0,06%, yang merupakan level terendah sejak tahun 1954.
"Penurunan dramatis dari yield T-Bill AS menggambarkan pembalikan risiko di pasar finansial global, karena para pialang di seluruh dunia memindahkan dananya ke surat berharga pemerintah AS yang bebas risiko," kata David Rodriguez dari Forex Capital Markets.
(qom/qom)











































