Pada penutupan perdagangan Rabu (17/9/2008), saham Maybank turun ke level terendahnya dalam 2 bulan terakhir menjadi 6,90 ringgit.
"Pada intinya, kami masih merespons negatif pada tingginya harga yang harus dibayar untuk BII. Dan kami yakin bahwa akan memerlukan waktu lebih lama sebelum BII memberikan kontribusi yang berarti pada Maybank," jelas OSK Research dalam catatan untuk kliennya seperti dikutip dari The Star, Kamis (18/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maybank juga menyatakan kemungkinan akan menderita kerugian hingga 3 miliar ringgit, jika mereka harus menjual 20% sahamnya ke publik dalam 2 tahun sesuai dengan aturan baru tender offer yang ditetapkan Bapepam-LK. Namun dengan adanya fleksibilitas, maka potensi kerugian bisa ditekan menjadi 860 juta ringgit.
CIMS Research menyatakan memiliki pandangan positif namun kontra terhadap akuisisi BII, karena momentum pertumbuhan pasar finansial yang kuat di Indonesia. Namun potensi kerugian dari investasi BII bisa membawa risiko berkurangnya pendapatan Maybank dalam beberapa tahun kedepan.
Maybank sebelumnya telah sepakat untuk membeli 55% saham BII dari konsorsium Temasek dan Kookmin Bank senilai US$ 2,7 miliar. Namun saat transaksinya akan tuntas, Bank Sentral Malaysia membatalkan transaksi dengan alasan keluarnya aturan tender offer dari Bapepam yang akan merugikan BII. Akibat segala ketidakjelasan tersebut, saham BII dikenakan suspensi sejak 31 Juli lalu.
Dan kemarin, Bank Sentral Malaysia (Bank Negara Malaysia/BNM) akhirnya mengeluarkan lagi izin untuk Maybank mengakuisisi BII.
Izin itu diberikan lagi setelah Bapepam LK Indonesia menginformasikan bahwa Maybank bisa melepas lagi 20% saham BII ke pasar dalam kurun waktu lebih dari 2 tahun. (qom/ir)











































