Anak Usaha Indika Bidik Proyek US$ 2 Miliar

Anak Usaha Indika Bidik Proyek US$ 2 Miliar

- detikFinance
Jumat, 19 Sep 2008 09:02 WIB
Anak Usaha Indika Bidik Proyek US$ 2 Miliar
Jakarta - Tripatra, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) sedang mengincar 7 proyek senilai US$ 2 miliar. Pengajuan proposal sudah dilakukan.

"Tripatra sedang mengikuti tender sekitar 7 proyek. Nilainya kira-kira US$ 2 miliar," ungkap Investor Relations INDY, Retina Rosabai di kantornya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis Malam (18/9/2008).

Sayangnya, Retina enggan membeberkan informasi lebih lanjut mengenai proyek-proyek tersebut. Ia hanya mengungkapkan semua proyek tersebut untuk operasi di wilayah Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua proyek itu ada di Indonesia, tapi pemilik proyeknya kombinasi antara asing dan lokal," ujar Retina.

Retina mengatakan, sebagian dari proyek-proyek yang sedang dibidik tersebut, adalah milik rekan bisnis Tripatra yang sudah bekerja sama selama ini.

Meski ia tidak mau menyebutkan, berdasarkan catatan detikFinance, selama ini Tripatra telah melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan seperti Exxon Mobil, Chevron dan Conoco-Philips.

Batubara

Tahun ini PT Kideco Jaya Agung, anak usaha INDY yang bergerak di sektor pertambangan batubara, menargetkan produksi 22 juta ton. Perkiraan harga rata-rata yang akan diterima Kideco tahun ini berkisar antara US$ 45-50 per ton.

Dengan asumsi itu, perkiraan pendapatan Kideco akan mencapai US$ 990 juta hingga US$ 1,1 miliar. Naik drastis dibandingkan posisi tahun lalu sebesar US$ 702 juta.

"Tahun depan Kideco menargetkan produksi 24 juta ton. Dari target tersebut, sekitar 21 juta ton sudah kontrak. Sisanya 3 juta untuk dijual di spot," ujar Retina.

Retina belum dapat memprediksi harga rata-rata batubara yang akan diterima Kideco tahun depan. Namun dari angka 21 juta ton yang sudah dikontrak untuk tahun depan, sebesar 2 juta ton sudah memiliki harga kontrak batubara.

"Dari 21 juta itu, sebanyak 500 ribu ton di harga US$ 97 per ton. Kemudian 1,5 juta ton di harga US$ 83 per ton. Jadi yang 2 juta ton sudah ada harganya, untuk sisanya 19 juta ton sudah kontrak namun masih negosiasi harga," jelas Retina. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads