Sebuah angka penyelamatan yang sangat fantastis, yang jika dirupiahkan bisa mencapai sekitar Rp 6.450 triliun. Angka itu tentu saja jauh lebih tinggi ketimbang RAPBN 2009 Indonesia yang jumlahnya mencapai Rp 1.000 triliun.
Pemerintah AS harus membayar mahal untuk sebuah krisis finansial terburuk yang bermula dari carut-marutnya kredit sektor perumahan berisiko tinggi alias subprime mortgage.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan semua mimpi buruk itu terjadi sepanjang pekan lalu. Lehman Brothers mengumumkan kebangkrutan, disusul rencana penyelamatan Merrill Lynch oleh Bank of America melalui akuisisi senilai US$ 50 miliar.
Korban selanjutnya adalah American International Group (AIG) yang terpaksa harus diselamatkan oleh pemerintah AS untuk menghindari dampak yang lebih sistemik dan buruk. Pemerintah AS pun terpaksa melakukan nasionalisasi setelah menyuntikkan US$ 85 miliar dengan imbalan 79,9% saham perusahaan asuransi raksasa itu.
Kabar-kabar buruk tersebut membuat indeks Dow Jones mengawali pekan lalu dengan kemerosotan hingga 504 poin hanya dalam sehari. Itu adalah capaian terburuk indeks Dow Jones sejak serangan teroris 11 September 2001.
Bursa-bursa global di seluruh dunia pun ikut terpuruk. Termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melorot jauh hingga level terendahnya dalam 2 tahun terakhir.
Dan setelah berbagai upaya penyelamatan yang supermahal itu dirilis oleh pemerintah AS, perlahan-lahan bursa saham membaik. Indeks S&P langsung mencatat kenaikan 2 hari yang terbesar sejak Oktober 1987.
Dan pada Jumat (20/9/2008) akhir pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melonjak 368,75 poin (3,35%) ke level 11.388,44. Nasdaq naik 74,80 poin (3,40%) 2.273,90, Standard & Poor's 500 naik 48,57 poin (4,03%) ke level 1.255,08.
Benarkah semua mimpi buruk di pasar finansial berakhir berkat langkah penyelamatan bernilai US$ 700 miliar?
Berbagai kalangan merasa tak yakin. Investor masih akan merasakan 'nyeri' dari berbagai guncangan yang terjadi sejak pekan lalu.
"Ini seperti Anda terkena serangan jantung, Anda pergi dan dada Anda dibelah untuk kemudian diperbaiki. Tapi ketika keesokan paginya, Anda masih akan tetap merasakan nyerinya," kata Warren Simpson, Managing Director Stephens Capital Management seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/9/2008).
Sebagian investor diperkirakan belum berani mengambil risiko yang besar sepanjang pekan ini.
"Investor mungkin tidak merasakan adanya kebutuhan untuk mempertahankan dananya di pasar saham," ujar Ray Rund, kepala riset Shaker Investment.
Meski demikian, sebagian investor di AS memperkirakan saham-saham bisa bergerak lebih stabil ketimbang pekan lalu. Investor kini tinggal menantikan respons dari kongres atas paket penyelamatan yang sudah disampaikan akhir pekan lalu.
Investor juga akan terus fokus pada perkembangan perekonomian AS setelah upaya penyelamatan mati-matian dari krisis finansial terburuk itu.
"Fundamental masih buruk. Sektor perumahan, utang kartu kredit, belanja konsumen, coba Anda sebut," kata Weston Boone, vice president Stifel Nicolaus Capital.
"Pasar finansial mungkin akan kembali dari jurang keterpurukan, namun kita harus terus melihat apakah bisa keluar dari resesi dan perekonomian membaik," kata Subodh Kumar, chief investment strategist Subodh Kumar & Associates.
(qom/qom)











































