Pada perdagangan saham sesi I, Rabu (24/9/2008) IHSG turun tipis 0,328 poin(0,02%) menjadi 1.872,772. Sedangkan rupiah pada perdagangan valas pukul 12.00 WIB melemah 40 poin ke posisi 9.325 per dolar AS.
Sementara bursa regional pada perdagangan sesi siang ini bervariasi seperti Hang Seng naik 0,77%, Seoul naik 0,84%, KOSPI naik 0,79%, Nikkei turun 0,19%, Shanghai turun 2,53%, STI Singapura naik 0,29% dan Taiwan turun 0,87%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saham-saham yang turun harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 200 menjadi Rp 3.700, Indofood Sukses Makmur (INDF) turun Rp 100 menjadi Rp 2.000, International Nickel Indonesia (INCO) turun Rp 50 menjadi Rp 3.375, Indika Energy (INDY) turun Rp 50 menjadi Rp 2.200 dan Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 10 menjadi Rp 1.540.
"Pelemahan mata uang rupiah cukup mempengaruhi dan membatasi laju IHSG untuk kembali ke level 2.000-an," ujar analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikFinance, Rabu (24/9/2008).
Menurut Mastono, IHSG dapat kembali ke level 2.000 jika mata uang rupiah kembali ke level 9.100 seperti sebelum IHSG anjlok beberapa pekan lalu. Apalagi ditengah kondisi keuangan dunia, terutama Amerika Serikat yang sedang dilanda krisis, investor-investor asing akan mengejar gain selain dari saham juga dari selisih kurs.
"Kelihatnnya investor asing masih menunggu rupiah menguat untuk masuk besar-besaran ke pasar modal Indonesia, sehingga mereka bisa memperoleh gain dari saham dan selisih kurs," ujar Mastono.
Mastono menjelaskan, pasca kebangkrutan Lehman Brothers, pembelian Meryll Lynch oleh Bank of America dan suntikan dana The Fed ke AIG, memang sempat memberikan sentimen positif pada pasar modal dunia, termasuk Indonesia.
"Sentimen itu kemudian mendorong investor asing kembali masuk kesini, terutama ke saham-saham komoditas. Kita bisa lihat bahwa pendorong utama rebound adalah saham-saham komoditas. Ditambah kembali naiknya harga minyak mentah. Namun laju kenaikan IHSG sepertinya tertahan pelemahan rupiah. Mereka (investor asing) masih menunggu penguatan rupiah," papar Mastono. (ir/qom)











































