Krisis AS Pengaruhi Ekspor RI

Analisis BNI Securities

Krisis AS Pengaruhi Ekspor RI

- detikFinance
Jumat, 26 Sep 2008 13:27 WIB
Krisis AS Pengaruhi Ekspor RI
Jakarta - Akar permasalahan krisis keuangan di AS adalah kombinasi dari likuiditas berlebih akibat kebijakan suku bunga rendah dan persaingan usaha yang mengabaikan prinsip kehatian-kehatian dalam pengukuran risiko.

Dampak langsung dari krisis keuangan AS ini akan memukul pertumbuhan dan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia sampai akhir tahun 2008.

Berikut laporan ekonomi BNI Securities yang diterima detikFinance, Jumat (26/9/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kami mengamati bahwa akar permasalahan krisis keuangan di AS adalah kombinasi dari likuiditas berlebih akibat kebijakan suku bunga rendah dan persaingan usaha yang mengabaikan prinsip kehatian-kehatian dalam pengukuran risiko. Potensi kerugian yang amat besar dari krisis ini dapat
merusak kepercayaan investor terhadap institusi keuangan di negeri itu.

Dalam jangka panjang, fungsi intermediasi perbankan dapat terganggu dan memperparah proses pemulihan. Sektor riil AS yang sudah mengalami perlambatan akibat tekanan harga minyak sepanjang tahun ini, kami perkirakan juga akan turun dan mempengaruhi ouput serta pendapatan agregat mereka.

Kami berpendapat AS berpotensi mengalami kontraksi perekonomian yang berujung pada resesi. Bila kita deteksi dari awal tahun 2007, indikator seperti ABC Consumer Confident dan Univ. Of Michigan Confident (yang menunjukan persepsi konsumen terhadap pola pengeluaran mereka) telah mengalami tren
menurun.

Sehingga krisis saat ini berpotensi untuk memperburuk indikator tersebut dan menurunkan daya beli, yang pada akhirnya akan sedikit mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia, dimana AS merupakan pangsa
pasar kedua setelah Jepang dengan proporsi sebanyak 11% sampai saat ini.

Kendati demikian, bila kita lihat tren ekspor non migas Indonesia ke AS masih naik sampai bulan Juli, para praktisi industri justru memperkirakan penjualan barang-barang seperti tekstil dan sepatu yang mendominasi pangsa ekspor ke AS sudah turun sekitar 15-20% di bulan Agustus.

Kami memperhitungkan bahwa jika permintaan impor AS terus menurun, maka kinerja ekspor Indonesia tahun 2008 dapat melemah sampai 3% dari prediksi kami, dimana jika dalam situasi normal kami menargetkan total ekpor Indonesia dapat mencapai US$ 142 milyar. Meskipun demikian, potensi      pelemahan yang relatif tidak terlalu signifikan tersebut dapat dihindari dengan mendiversifikasi dan mengintensifkan pasar baru di wilayah lain seperti timur tengah atau negara-negara Eropa.

Inflasi September Bisa Lebih 12%


Akibat tekanan demand-pull musiman dari dalam negeri, perkembangan harga secara umum memasuki siklus musiman bulan puasa. Dimana jika mendekati hari raya, biasanya ada empat komponen pengeluaran yang akan naik harganya, yaitu bahan makanan, produk makanan dan minuman jadi, pakaian, dan jasa transportasi.

Kami melihat ekspektasi kenaikan harga dan tekanan dari sisi permintaan akan menjadi pendorong utama inflasi di bulan September ini, dikarenakan ada penambahan daya beli dari sisi permintaan yang berasal dari pembagian Tunjangan Hari Raya (THR). Maka dengan mencermati kondisi-kondisi tersebut, kami memprediksi IHK (Indeks Harga Konsumen) di bulan September ini akan naik dan berada pada level 1,09% mom. Sedangkan untuk YoY, diperkirakan akan tumbuh 12,17% yang merupakan level tertinggi sampai 9M08.

Kebijakan moneter Bank Indonesia dalam merespons tekanan inflasi dan ketatnya likuiditas perbankan domestik bank sentral akan menghadapi tambahan dilema dalam memasang target kebijakan moneternya bulan ini selain trade off antara kebijakan uang ketat dan perlambatan pertumbuhan.

Tambahan tersebut berasal dari kondisi perbankan domestik yang sedang kesulitan likuiditas. Kami melacak bahwa sejak Februari 2008, penyaluran kredit yang difasilitasi oleh perbankan mengalami kenaikan permintaan. Akan tetapi ekspansi tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang signifikan, terutama di bulan Juli lalu dimana kredit tumbuh 1,7% mom, sedangkan DPK berkurang 1,3% mom.

Untuk itu bank sentral harus hati-hati dalam menaikan suku bunga acuannya secara agresif untuk menahan tekanan inflasi September ini. Karena suku bunga yang semakin tinggi justru akan menambah cost of fund dari perbankan dalam mengelola dananya, dan tentu saja semakin mengurangi likuiditas. Disamping itu, Upaya pemerintah untuk membuka saluran likuiditas dengan mencairkan sisa anggaran belanja di akhir bulan ini kami perkirakan tidak akan banyak membantu dalam jangka menengah. Karena dana tersebut hanya akan mampir sementara sebelum dikeluarkan lagi.

Oleh karena itu, jika angka aktual nanti tidak berbeda jauh dengan prediksi kami, maka kami perkirakan BI tidak akan memaksakan diri untuk menaikan suku bunga acuan melebihi 25 bps. Dengan kata lain, kami memproyeksi bank sentral hanya akan menaikan BI rate ke level 9,5% pada Oktober nanti. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads