Pada perdagangan Jumat (3/10/2008), saham Maybank sempat melorot hingga 40 sen sebelum ditutup turun 30 sen di 6,60 Ringgit. Harga itu berarti mendekati level terendahnya pada RM 6,60 yang dicapai pada 26 Maret 2003.
Saham Maybank yang sudah merosot sejak awal tahun, secara total sudah kehilangan 28% dari nilai pasarnya. Meski masih menjadi bank terbesar, namun kapitalisasi pasarnya sudah merosot hingga RM 32,2 miliar, di bawah kapitalisasi pasar Public Bank Berhard sebesar RM 35,1 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maybank sepakat untuk membayar 55,6% saham BII senilai 4,26 miliar ringgit atau setara dengan US$ 1,24 miliar, atau pada harga Rp 433 per lembar. Maybank akan melanjutkannya dengan tender offer sisa saham yang tidak dimiliki oleh konsorsium Sorak, pada harga Rp 510.
CIMB Research melaporkan, kesepakatan itu akhirnya menuntaskan berbagai ketidakpastian yang meliputi transaksi tersebut. Namun demikian, menurut CIMB, harga yang dibayar Maybank tetap kemahalan.
Seperti dikutip dari The Star, Sabtu (4/10/2008), Maybank membayar saham BII dengan premium yang besar. Harga saham BII pada Jumat lalu --- sebelum disuspensi---- berada di level Rp 310.
CIMB memperkirakan, harga yang harus dibayar untuk 100% saham BII mencapai RM 8,25 miliar atau Rp 467,2 per lembarnya. Harga itu tetap lebih tinggi dari harga terkini BII sebesar Rp 310.
Harga itu juga merefleksikan price-earning ratio (PER) 26 kali untuk tahun fiskal yang berakhir 30 Juni 2009 dan price to book value 3,8 kali untuk tahun fiskal 2008.
CIMB selanjutnya mempertahankan target harga Maybank di RM 8,60 dan tetap positif terhadap upaya ekspansi Maybank, termasuk dengan akuisisi BII. CIMB yakin pasar Indonesia akan memberikan kesempatan tumbuh yang besar bagi Maybank mengingat besarnya jumlah penduduk.
(qom/qom)











































