Dengan melakukan perbandingan tersebut, BEI akan tahu pengaruh dari short selling terhadap perdagangan saham secara keseluruhan.
"Semua bursa kan melarang short selling, kecuali bursa China yang hari ini melakukan short selling. Kita akan lihat apakah mereka akan sukses," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah, di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (6/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara aturan short selling itukan tidak boleh. Kalau mau menjual harus punya saham, kalau beli harus punya uang. Memang ada fasilitas short selling dan kita buat list-nya. Tapi, bukan naked short selling," terangnya.
Naked short selling adalah, perdagangan yang sama sekali tidak memiliki saham atau pun uang. Sehingga perdagangan seperti ini, diperkirakan akan semakin meruntuhkan indeks yang tengah anjlok. Sementara untuk short selling yang menggunakan sistim perjanjian tidak dilarang. Selama ini, BEI menyediakan list saham-saham tersebut.
Namun, karena kondisi yang tidak menentu saat ini, BEI tengah berupaya menghilangkan seluruh praktik short selling, apapun itu. Upaya yang dilakukan adalah dengan menghapus menghapus list dari seluruh saham short selling, termasuk yang menggunakan perjanjian. Sehingga diharapkan, praktik naked short selling juga ikut hilang.
"Sekarang list itu kita hapuskan dengan harapan tidak aksi short selling baik yang naked maupun dengan perjanjian. Jadi sementara kita hilangkan," ujarnya.
Penghilangan sementara list short selling akan dilakukan selama bulan Oktober ini. Setelah itu, BEI akan melihat lagi kondisi perdagangan pada bulan selanjutnya.
"Kita akan lihat. cuma kita ke luarkan tiap bulan. Untuk Oktober kita tidak buat listnya. Nanti kita lihat lagi di bulan November," terangnya.
Direktur Pencatatan BEI, Eddy Sugito juga melihat short selling sebagai pedang bermata dua. Dalam kondisi normal apalagi bullish, banyak orang dipasar berpikirakan bahwa harga akan naik terus dan ada sebagian investor yang berpikir koreksi. Sehingga short selling justru menambah likuiditas perdagangan yang terjadi.
"Dalam tiga sampai enam bulan ke depan. Mereka melakukan short selling dengan harapan 3-6 bulan ke depan mreka membeli lagi. Itu kan sesuatu yang wajar. Persepsi yang berbeda-beda ini kan yang dibutuhkan pasar sehingga pasar semakin marak," terang Eddy.
Tapi dalam kondisi anomali seperti sekarang ini, yang terjadi adalah indeks yang sudah jatuh semakin terpuruk.
Untuk itu, Eddy akan melakukan pengawasan lebih seksama lagi mengenai praktik short selling. Pihaknya akan melakukan kordinasi dengan sejumlah pihak yang terlibat di perdagangan, sehingga bisa diketahui mana yang melakukan praktik short selling.
"Saya kira kita akan berkoordinasi, ini kan bulanan. Mudah-mudahan dalam satu bulan, pasar sudah mulai baik. Artinya, kan sudah ada jalan ke luar," jelasnya. (dro/ir)











































