Pelaku pasar pun cemas, IHSG pada perdagangan saham Selasa (7/10/2008) akan kembali jatuh di posisi terendahnya. Masalah krisis finansial di AS yang merambat ke pasar global terus menjadi kekhawatiran pelaku pasar.
Investor juga akan melihat apakah Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga BI Rate dalam rapat dewan gubernur (RDG) Selasa ini. Jika BI Rate naik 0,25% dari posisi saat ini 9,25% menjadi 9,5%, investor diperkirakan akan memindahkan dananya dari pasar saham ke perbankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Standard & Poor's 500 ikut merosot 42,34 poin (3,85%) ke level 1.056,89 dan Nasdaq anjlok 84,43 poin (4,34%) ke level 1.862,96.
Pelaku pasar melihat krisis saat ini masih awal dan bisa berdampak lebih parah lagi dalam beberapa bulan ke depan meski sejumlah negara maju telah memberikan dana talangan.
Bursa-bursa global pada Senin kemarin merosot tajam yang rata-rata turun 4-7%. Bahkan perdagangan saham di Rusia, Brasil dan Peru harus dihentikan sementara karena kemerosotan yang tajam.
Sementara pada penutupan perdagangan saham Senin kemarin (6/10/2008), IHSG ambles hingga 183,768 poin atau 10,03% ke level 1.648,739. IHSG mencatat penurunan paling parah di Asia.
Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.
Optima Securities
Indeks pasca libur lebaran turun dalam sebesar 10% ke posisi 1.648 mendekati level terendah intraday pada bulan September di level 1.592. Penurunan dipicu oleh faktor eksternal seperti akumulasi penurunan bursa-bursa global selama masa liburan, turunnya harga minyak yang menembus dibawah US$ 90/barrel sehingga membuat kontrak CPO turun dibawah RM 2.000/ton serta melemahnya rupiah ke posisi diatas 9.500/US$. Sedangkan faktor domestik terkait data inflasi bulan September yang tercatat 0,97% atau 12,14% (yoy) yang bakal berpengaruh pada BI Rate yang akan ditentukan pada hari ini dengan perkiraan naik 25 bps ke level 9,5%. Kondisi negatif yang demikian membawa psikologis market sehingga terjadi panic selling yang menekan investor yang menggunakan fasilitas margin atau repo. Indeks masih dalam trend bearish dengan kisaran pergerakan 1.590-1.730 dengan pilihan saham: BNII, APEX, PGAS, ASII dan PTBA.
Panin Sekuritas
IHSG kemarin anjlok -10.03% ditutup pada 1.648,739, terendah sejak November 2006. Penurunan kemarin merefleksikan penurunan bursa global yang terjadi pada saat libur lebaran pekan lalu. Bursa regional sendiri masih dilanda kekhawatiran akan resesi ekonomi global menyusul krisis sektor finansial di Amerika. Bailout sebesar US$ 700 miliar terbukti tidak mampu menenangkan pasar. Merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga merefleksikan aliran dana yang keluar dari pasar finansial Indonesia. Meski ada peluang teknikal rebound, akan tetapi belum ada sentimen positif yang dapat menggerakkan investor kembali ke bursa. Disisi lain, ancaman margin call serta redemption reksa dana akan membayangi pergerakan bursa hari ini. Kisaran support-resistance 1.570-1.700.
eTrading Securities
Bursa Indonesia membuka perdagangan bulan Oktober dengan kembali mencetak rekor koreksi terbesar setelah terjadinya Bom Bali tahun 2002. Indeks merosot tajam 10,02% atau mencapai 183,7 poin ke level 1648,7. 162 saham dari 177 saham yang aktif diperdagangkan kemarin, mengalami pelemahan dan 65 saham mengalami koreksi lebih dari 20%. Penurunan dipicu oleh akumulasi sentimen negatif selama libur panjang lebaran, koreksi pada bursa Global dan regional, diperparah dengan penurunan harga komoditas dunia seiring penurunan harga minyak. Indikasi terjadi sell-off yang dilakukan oleh salah satu manajer investasi asing juga memperburuk sentimen perdagangan kemarin. Pengumuman inflasi September yang diatas ekspektasi pasar sebesar 0,97% juga memberi alasan aksi jual pada sesi ke-2.
Sementara bursa US pada perdagangan kemarin kembali melemah dan bahkan indeks Dow Jones ditutup di bawah level 10000, terendah sejak 2004. Dow semalam turun 3,6% akibat penurunan yang terjadi pada bursa-bursa Asia dan Eropa kemarin. Pelaksanaan program bailout yang masih membutuhkan waktu membuat uncertainty di US kembali tinggi dan investor memilih mengambil aksi jual pada portfolionya. Bursa Eropa kemarin juga ditutup turun tajam, FTSE -6%, DAX -7% dan -9% pada CAC-40. Sementara harga minyak dunia kembali terkoreksi dan ditutup di level US$88 /barrel, terendah sejak Februari 2008, diikuti dengan harga CPO -10% di level 1.792 RM ($514)/ton, terendah sejak Nov 2006. Timah -4% dan Nickel -1%. Rupiah ditutup di level Rp 9.705/$.
Bursa Indonesia yang mengalami koreksi terbesar kemarin, diperkirakan masih akan tertekan hari ini, seiring buruknya sentimen dari bursa Global disertai dengan pelemahan harga komoditas. Meski masih akan ada aksi beli selektif di bursa pada hari ini, namun indeks diperkirakan akan kembali bergerak melemah dengan support di level 1592. Kami merekomendasikan investor untuk tetap melihat fundamental dari emiten Indonesia yang kami pandang masih sangat kuat. Minimnya eksposure sektor finansial Indonesia pada krisis finansial di US juga menambah resistensi bursa terhadap krisis. Emiten dengan 'strong cash flow' dan 'highest industry growth' seperti batubara dan infrastructure masih menjadi pilihan untuk investasi jangka panjang. Β (ir/ir)











































