"Kami akan panggil manajemen seluruh emiten grup Bakrie untuk minta penjelasan mengenai rumor default repo yang menyebabkan saham mereka anjlok kemarin," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah di kantornya, SCBD, Jakarta, Selasa (7/10/2008).
Pada perdagangan kemarin, Senin (6/10/2008) seluruh saham grup Bakrie yang tercatat di Bursa Efek Indonesia anjlok tajam, sampai-sampai terkena penghentian perdagangan saham otomatis (auto rejection).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga bernasib sama, dihentikan pada level Rp 350 setelah anjlok 32,69% dibanding posisi Senin (29/9/2008) di level Rp 520. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dihentikan pada level Rp 150 setelah anjlok 36,17% dibanding posisi Senin (29/9/2008) di level Rp 235. Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juga dihentikan pada level Rp 150 setelah anjlok 40% dibanding posisi Senin (29/9/2008) di level Rp 250.
Saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang merupakan induk 5 perusahaan di atas juga dihentikan di level Rp 145 setelah anjlok 40,82% dibanding penutupan Senin (29/9/2008) di level Rp 245.
Menurut analis PT BNI Securities, Muhammad Alfatih kejatuhan saham-saham grup Bakrie tersebut disebabkan adanya isu gagal bayar dalam penggadaian sejumlah portofolio saham BNBR di 5 anak usahanya.
Akibat simpang siur rumor tersebut, BEI memutuskan melakukan penghentian sementara perdagangan saham-saham grup Bakrie sejak Sesi I pagi tadi.
"Suspensi dilakukan karena ada beberapa informasi yang belum akurat, sehingga itu mengganggu pasar. Kami akan panggil mereka, kalau tidak sore ini, besok pagi," ujar Erry.
Meski bukan menjadi sebab utama, Erry mengakui bahwa kejatuhan 6 saham grup Bakrie memberikan kontribusi terhadap kejatuhan IHSG pada perdagangan kemarin yang mencapai 10,03% ke level 1648,739 dari sebelumnya 1832,51.
"Memang memberikan kontribusi, tapi bukan factor utama. Faktor utamanya tetap sentiment global," jelas Erry. (dro/ir)











































