"Ini adalah penutupan yang pertama dalam sejarah," ujar pengamat pasar saham Edwin Sinaga ketika dihubungi detikFinance, Rabu (8/10/2008).
BEI sempat ditutup pada 13 September 2000 ketika ada peledakan bom di BEI yang dulu masih bernama Bursa Efek Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika perdagangan saham ditutup pukul 11.08 JATS, Rabu (8/10/2008) IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006.
Pengamat ekonomi Aviliani menyambut baik penghentian perdagangan Bursa Efek Indonesia. "Itu justru bagus daripada, terus anjlok daripada anjlok terus malah akan semakin buruk," ujar Aviliani di sela-sela diskusi di kawasan Senayan.
Ke depannya, BEI harus bisa merayu perusahaan-perusahaan untuk bisa mencatatkan sahamnya di bursa.
Sementara itu anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan selama pasar saham global terkoreksi akan terus berimbas dengan menurunkan saham Indonesia.
"Memang sebelum indeks global terkoreksi, akan tetap seperti itu, kecuali pemerintah intervensi dengan membeli saham, tapi saya nggak setuju karena secara politik itu tidak bijak," ujarnya.
Dradjad malah memperingatkan pemerintah karena krisis ini sudah hampir mirip dengan krisis ekonomi tahun 1997-1998.
"Sebenarnya arahnya sama, suku bunga naik, indeks jatuh, interbank loan kering, rupiah turun, inflasi tinggi, tapi memang magnitudenya lebih kecil," ujarnya.
(ddn/ir)











































