Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah mengakui memang terjadi pro kontra atas penutupan pasar saham tersebut.
"Pro kontra antara pelaku pasar memang masih ada. Kebanyakan mendukung suspensi tetap dilakukan besok. Kepastiannya tergantung hasil pertemuan-pertemuan hari ini," ujar Erry di kantornya, SCBD, Jakarta, Kamis (9/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara anggota bursa (AB) dan pelaku pasar meminta pada BEI agar penghentian perdagangan (suspensi) tetap dilanjutkan hingga Jumat 10 Oktober 2008.
"Pada pertemuan dengan AB dan pelaku pasar kemarin, kami mendapat masukan cukup banyak. Mayoritas dari mereka meminta agar suspensi bursa tetap dilanjutkan hingga Jumat besok," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah di kantornya, SCBD, Jakarta, Kamis (9/10/2008).
Menanggapi hal itu, Erry mengatakan BEI akan mengkaji lebih lanjut mengenai permintaan tersebut dengan Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dalam rapat yang akan dilakukan Kamis siang ini.
"Kita tidak bisa bersandar pada permintaan mereka saja. Kita harus lihat kepentingan yang lebih luas. Masih kami kaji dan akan diputuskan sore ini setelah rapat dengan Menkeu siang ini," jelas Erry.
Hasil pembicaraan dengan Menkeu akan dibahas juga dalam pertemuan kedua dengan AB dan pelaku pasar Kamis sore ini di gedung BEI. Hasil pertemuan tersebut rencananya akan dibahas kembali dengan Menkeu dan Bapepam malam nanti.
Pro kontra pelaku pasar itu antara lain:
Adler Manurung mengatakan bursa itu fungsinya memfasilitasi investor untuk melakukan transaksi jual dan beli saham, tidak ada hukum dan peraturan BEI boleh mensuspensi di tengah jalan. Tindakan penutupan bursa tidak bisa dipertanggungjawabkan.
David Ferdinandus mengaku khawatir terhadap penutupan bursa secara mendadak ini. Karena ini akan makin membuat investor panik karena tidak ada jaminan setelah disuspensi indeks tidak akan turun tajam lagi.
Edwin Sinaga mengatakan suspensi itu merupakan tindakan yang paling baik untuk menenangkan pasar, karena bursa saham Indonesia telah dijadikan ajang for sell besar-besaran.
Erwin Aksa mengatakan langkah Bursa Efek Indonesia menutup transaksi perdagangan terlalu reaktif dan kontraproduktif. Penutupan ini melengkapi pukulan bagi sektor riil pasca kenaikan BI Rate menjadi 9,5%. (ir/ddn)











































