PTBA memastikan dampak buy back akan mempengaruhi laba bersih perseroan sebesar Rp 47,233 miliar. "Nilai pembelian kembali saham sebanyak-banyaknya sebesar Rp 1 triliun," ujar Direktur Utama PTBA, Sukrisno dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin 13 Oktober 2008.
Sukrisno mengatakan bahwa buy back hanya akan dilakukan apabila memberikan keuntungan pada perseroan dan pemegang saham perseroan. Perseroan menyatakan
tidak akan melakukan buyback jika memberikan dampak negatif secara material terhadap likuiditas dan permodalan perseroan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Sukrisno mengatakan buy back tidak akan mempengaruhi pembiayaan investasi perseroan selama 6 bulan ke depan yang diperkirakan sebesar Rp 1,05
triliun untuk peningkatan kapasitas angkut kereta api, pembangunan PLTU Mulut Tambang 2x100 MW, trading batubara dan anggaran belanja modal rutin.
"Penurunan aktiva dan ekuitas akan dikompensasikan dengan potensi keuntungan dari peningkatan harga saham perseroan di masa yang akan datang," ujar Sukrisno.
Untuk menangani pelaksanaan buyback, perseroan menunjuk PT Danareksa Sekuritas sebagai penasihat keuangan independen serta perantara pedagang efek.
WIKA
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menyiapkan dana untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) sebanyak-banyaknya sebesar Rp 140 miliar. Dampak buy back akan mempengaruhi laba bersih perseroan sebesar Rp 8,4 miliar.
"Nilai pembelian kembali saham sebanyak-banyaknya sebesar Rp 140 miliar. Pembiayaannya berasal dari saldo laba perseroan," ujar Direktur Utama WIKA, Bintang Perbowo dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin 13 Oktober 2008.
Perbowo menjelaskan bahwa dengan disishkannya sebagian saldo laba atau free cash flow perseroan untuk keperluan buiyback, maka akan mempengaruhi laba bersih sebesar Rp 8,4 miliar.
"Jika perseroan menggunakan seluruh dana yang dicadangkan untuk pelaksanaan buy back, maka potensi penurunan aktiva dan ekuitas sebanyak-banyaknya sebesar Rp 148,4 miliar yang berasal dari dana buy back Rp 140 miliar ditambah potensi berkurangnya laba bersih perseroan sebesar Rp 8,4 miliar," jelas Perbowo.
Meski demikian, Perbowo mengatakan bahwa perseroan memiliki keyakinan pelaksanaan buy back tidak akan memberikan dampak negatif yang bersifat material bagi kegiatan perseroan.
"Penurunan aktiva dan ekuitas dapat dikompensasikan dengan potensi keuntungan dari peningkatan harga saham perseroan di masa yang akan datang," ujar Perbowo.
Mengenai saham-saham yang akan di buy back, nanti akan ditempatkan sebagai treasury stock yang dapat dijual kembali selambat-lambatnya 30 hari setelah pelaksanaan buy back selesai pada 13 Januari 2009.
"Perseroan dapat mempergunakan treasury stock untuk dijual kembali sebagai Employee Stock Option Plan (ESOP) atau Employee Stock Purchase Plan (ESPP), pembiayaan utang bersifat ekuitas seperti obligasi tukar, melakukan pengurangan modal dan dijual kembali di luar bursa pada nilai pasar wajar," jelas Perbowo. (dro/ir)











































