Pada penutupan perdagangan saham Senin (13/10/2008) IHSG naik 10,204 poin (0,7%) menjadi 1.461,873. Padahal pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (13/10/2008) IHSG masih anjlok 49,768 poin (3,43%) menjadi 1.401,901 dan pada sesi pagi sempat terjatuh hingga 92 poin lebih.
Indeks LQ-45 naik 3,065 poin (1,08%) menjadi 287,301 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 4,504 poin (2,02%) menjadi 227,523. Pelaku pasar mulai percaya diri melakukan pembelian selektif karena munculnya kepastian Qatar Telecom tetap akan membeli tender offer saham Indosat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG mengikuti rebound di bursa saham Asia seperti Hang Seng naik 10,24%, Seoul naik 3,79%, KOSPI naik 3,62%, Shanghai naik 3,65% dan STI Singapura naik 7,18%.
Perdagangan saham hari ini ramai dengan mencatat transaksi sebanyak 73.726 kali dengan volume 11,321 miliar unit saham, senilai Rp 7,499 triliun. Sebanyak 72 saham naik, 97 saham turun dan 35 saham stagnan.
Saham-saham yang naik harganya antara lain, Telkom (TLKM) naik Rp 150 menjadi Rp 6.600, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 150 menjadi Rp 1.740, Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 100 menjadi Rp 1.150, Indosat (ISAT) naik Rp 375 menjadi Rp 4.325 dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 500 menjadi Rp 5.750.
Sedangkan saham-saham yang turun harganya antara lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 50 menjadi Rp 4.225, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 125 menjadi Rp 2.175 dan United Tractors (UNTR) Rp 100 menjadi Rp 6.100.
Sementara Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartanto disela-sela rapat dengan Menteri ESDM, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (13/10/2008) mengatakan pembelian kembali (buy back) saham yang dilakukan BUMN-BUMN secara masal ternyata dinilai tidak mampu memulihkan kondisi pasar. Mekanisme buy back masal BUMN hanya sanggup memulihkan kepercayaan pasar saja.
"Untuk me-recover tidak bisa, tapi hanya untuk mengembalikan kepercayaan pasar," katanya.
Untuk benar-benar bisa memulihkan aktivitas di pasar bursa, Airlangga memprediksi IHSG membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Sementara untuk kembali menembus level 2.000 waktu yang diperlukan lebih lama lagi.
Untuk bisa memulihkan kondisi pasar, pemerintah memang harus menangani fundamental ekonomi makro dan meyakinkan bahwa Indonesia tidak terkena krisis finansial.
"Seperti yang dilakukan pemerintah hari ini mengeluarkan PP penjaminan aset, saya rasa akan berdampak positif. Tapi kira-kira butuh 6 bulan untuk kondisi yang lebih baik," katanya.
Selain itu pemerintah juga diminta lebih mewaspadai pernyataan-pernyataan dari lembaga keuangan internasional yang bisa merugikan Indonesia.
"Seperti JP Morgan atau signal lainnya, jangan sampai mereka mengeluarkan statement yang merugikan Indonesia," katanya. (ir/qom)











































