Hal tersebut disampaikan Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono dalam diskusi mengenai krisis global yang digelar HIPMI di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Selasa (14/10/2008).
"Rupiah saat ini memang terdepresiasi. Tetapi rupiah memang harus direduksi katakanlah ke Rp 9.500-9.600. Jadi jangan berpikir rupiah bisa balik lagi ke Rp 9.100. Karena sebenarnya level itu tidak baik," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan perbedaan inflasi sampai 7%, rupiah harus didepresiasi, karena inflasi sudah lebih tinggi dari AS," katanya.
Sebenarnya sah-sah saja jika inflasi tinggi asalkan capital inflow Indonesia juga tinggi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. "Inflasi iya, capital inflow besar tidak terjadi," ujarnya.
Hal ini bisa terlihat dari cadangan devisa Indonesia yang tertahan di US$ 57 miliar. Padahal target cadangan devisa pada akhir tahun ini diharapkan bisa mencapai US$ 74 miliar. "Jadi cadangan devisa US$ 74 miliar di akhir tahun nggak mungkin terjadi," ujarnya.
Dengan alasan-alasan tersebut, maka Tony yakin rupiah tidak akan balik ke level Rp 9.100 meskipun ia juga yakin tidak akan separah 1998 dimana nilai tukar rupiah menjadi Rp 15.000 per US$.
"Bisa dibilang, paniknya sekarang masih panik ekonomi, kalau 1998 kan sudah panik politik," ujarnya.
(lih/ddn)











































