Wall Street Jatuh Lagi

Wall Street Jatuh Lagi

- detikFinance
Kamis, 16 Okt 2008 06:40 WIB
Wall Street Jatuh Lagi
New-York - Saham-saham di Wall Street kembali berjatuhan dan mencatat kejatuhan terbesar kedua dalam sejarah hingga hampir 8%. Semua dipicu oleh kekhawatiran resesi, setelah bailout besar-besaran.

Pada perdagangan Rabu (15/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 733,08 poin (7,87%) ke level 8.577,91. Ini adalah kejatuhan terbesar sejak kemerosotan 777 poin yang dicetak pada bulan lalu dan terdalam sejak tahun 1987.

Dalam suasana kejatuhan yang rusuh, indeks Standard & Poor's juga jatuh hingga 90,17 poin (9,03%) ke level 907,84. Nasdaq juga anjlok 150,69 poin (8,47%) ke level 1.628,33.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perdagangan saham di bursa terbesar di dunia itu kemarin sangat bergejolak. Saham-saham dibuka langsung merosot tajam, dengan indeks Dow Jones anjlok 300 poin. Kejatuhan itu mengikuti kemerosotan yang dicetak bursa-bursa Eropa sebelumnya.

Bursa-bursa Eropa sebelumnya telah 'menginspirasi' kemerosotan, dengan indeks FTSE 100 London anjlok 7,16%, CAC 40 Paris anjlok 6,82% dan DAF Frankfurt melorot 6,49%.

Kemerosotan ini langsung memicu kejatuhan bursa-bursa lain. Pada perdagangan Kamis (16/10/2008), indeks S&P/ASX200 di Australia langsung merosot 224,6 poin ke level 4.075,4 hanya dalam 10 menit awal perdagangannya.

"Pasar saham terkubur oleh kekhawatiran resesi," ujar Al Goldman, analis dari Wachovia Securities seperti dikutip dari AFP, Kamis (16/10/2008).

Reaksi pasar terjadi setelah keluarnya data penjualan ritel AS yang menunjukkan penurunan 1,2% selama September, yang kemudian diartikan sebagai meluasnya permasalahan ekonomi AS setelah sebelumnya didera masalah kredit macet dan badai pasar finansial.

Penurunan angka penjualan ritel itu adalah yang terdalam sejak Agustus 2005, dan lebih besar dari ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penurunan 0,7%.

"Oknum pelaku hari ini adalah kekhawatiran meningkatnya kekhawatiran bahwa kemerosotan ekonomi mungkin bergerak ke arah kontraksi yang lebih signifikan sebagaimana masalah kredit macet, terlihat dari data yang keluar itu," ujar Charles Schwab.

Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke mengatakan bahwa pemulihan dari krisis finansial tidak akan terjadi secara cepat, namun perekonomian AS pada akhirnya akan muncul dengan kekuatan baru.

Berbicara dalam Economic Club di New York, Bernanke menyatakan bahwa masalah di perekonomian dan pasar sangatlah besar dan kompleks.

"Namun dalam penilaian saya, pemerintah kami sekarang sudah memiliki alat yang diperlukan untuk menghadapi dan memecahkannya," jelas Berbanke.

"Stabilisasi di pasar finansial adalah langkah kritikal pertama, bahkan jika mereka sudah stabil sebagaimana kita harapkan itu akan terjadi, pemulihan ekonomi secara luas kemungkinan tidak akan terjadi dengan cepat," imbuh Bernanke. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads