Alhasil, pada perdagangan saham Kamis (16/10/2008) IHSG masih akan dibayangi aksi jual karena kondisi pasar saham global yang labil membuat investor harus pikir-pikir dulu berbelanja saham.
Pergerakan bursa global akan terus membayangi IHSG karena hampir separuh investor di Bursa Efek Indonesia adalah pemain asing yang investasinya sangat tergantung dari kondisi pasar global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa saham Asia Pasifik turun mengikuti jatuhnya saham-saham di Wall Street yang mencatat kejatuhan terbesar kedua dalam sejarah hingga hampir 8% karena dipicu oleh kekhawatiran resesi, setelah bailout besar-besaran.
Pada penutupan perdagangan Rabu waktu AS (15/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 733,08 poin (7,87%) ke level 8.577,91. Ini adalah kejatuhan terbesar sejak kemerosotan 777 poin yang dicetak pada bulan lalu dan terdalam sejak tahun 1987.
Indeks Standard & Poor's juga jatuh hingga 90,17 poin (9,03%) ke level 907,84. Nasdaq ikut anjlok 150,69 poin (8,47%) ke level 1.628,33.
Sementara pada penutupan perdagangan saham Rabu kemarin (15/10/2008) IHSG anjlok 35,560 poin (2,29%) menjadi 1.520,407.
Investor lokal masih fokus pada rencana BEI yang akan melepas batas atas auto rejection yang saat ini dipatok 10%.
Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.
Panin Sekuritas
Setelah 2 hari berturut-turut akhirnya IHSG kemarin ditutup melemah -2.29%. IHSG terimbas oleh penurunan bursa regional menyusul kekhawatiran dari dampak resesi global terhadap kinerja korporasi. Kondisi tersebut diperburuk oleh profit taking yang dilakukan investor terhadap saham unggulan yang 2 hari terakhir rebound.
Investor memilih untuk "mengamankan" keuntungan yang mereka raih terlebih dahulu ditengah kondisi pasar yang bergejolak. Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Pemodal juga akan melihat kebijakan yang akan diambil BEI terkait aturan auto rejection. Kisaran support-resistance 1.460-1.570.
etrading Securities
Bursa Indonesia pada perdagangan kemarin akhirnya terkoreksi, setelah selama 2 hari berturut-turut mengalami pelemahan. Indeks terkoreksi 2,2% ke level 1520,4 seiring pelemahan yang terjadi di bursa Global terkait indikasi profit taking yang dilakukan investor pada beberapa saham yang telah menguat signifikan. Trading value juga tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp2,7 triliun, seiring belum dicabutnya pembatasan Auto Rejection oleh BEI sehingga pergerakan saham-saham blue chip lebih terbatas.
Sementara bursa US kembali mengalami kehancuran semalam. Indeks Dow Jones mengalami pelemahan terbesar kedua sepanjang sejarah dengan merosot 733 poin atau sekitar 7,8%. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor akan tanda-tanda yang secara jelas memperlihatkan bahwa US telah memasuki masa resesi. Data penjualan retail bulan September, yang merupakan 2/3 penggerak perekonomian US, turun 1,2%, yang menunjukkan adanya pelemahan daya beli konsumen akibat krisis finansial. Sentimen negatif juga diperparah dengan statement The Fed yang menyatakan bahwa pemulihan sektor kredit finansial tidak akan serta merta menyelamatkan ekonomi US dari resesi. Terkait hal ini, seluruh bursa Asia dibuka anjlok pagi ini. Nikkei -9,5%, KOSPI -6,2%, STI -5,5% dan AORD Australia -6%.
Bursa Indonesia tampaknya akan kembali mengalami hari yang berat hari ini seiring kuatnya sentimen negatif dari pelemahan bursa US dan Asia. Investor kembali memiliki alasan kuat untuk melakukan profit taking pada saham-saham yang telah menguat awal pekan ini. Sektor mining, Telco's dan Infrastruktur diperkirakan akan kembali melemah hari ini. Namun potensi buy back oleh BUMN diperkirakan akan mulai dilakukan seiring pelemahan sahamnya di pasar. Indeks diperkirakan akan bergerak melemah dengan rentang perdagangan pada kisaran 1450 - 1535. (ir/ir)











































