Sistem BEI Belum Siap Terapkan Auto Rejection Asimetris

Sistem BEI Belum Siap Terapkan Auto Rejection Asimetris

- detikFinance
Kamis, 16 Okt 2008 15:05 WIB
Sistem BEI Belum Siap Terapkan Auto Rejection Asimetris
Jakarta - Sistem perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum bisa menerapkan auto rejection yang tidak sama atau asimetris. Sistem auto rejection BEI hanya bisa jalan jika auto rejection batas atas dan batas bawah sama.

Untuk itu BEI masih mengupayakan agar penerapan sistem penolakan transaksi secara otomatis (auto rejection) yang tidak simetris antara batas atas dengan batas bawah bisa berjalan. Hal ini seiring dengan permintaan banyak pihak agar BEI melepas batas atas auto rejection dan untuk batas bawah tetap 10%.

Saat ini BEI masih menerapkan batas atas dan batas bawah auto rejection sebesar 10% yang diperketat dari sebelum krisis sebesar 30%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada uji coba Rabu Malam (15/10/2008), sistem perdagangan bursa masih belum dapat mengimplementasikan aplikasi yang tidak simetris (asimetris).

"Ada masalah teknis yang harus kami ulang, tapi sudah terlalu malam. Jadi kami tidak berani lakukan hari ini. Nanti kami coba lagi setelah perdagangn hari ini tutup," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah di kantornya, SCBD, Jakarta, Kamis (16/10/2008).

Sepertinya permintaan Menneg BUMN Sofyan Djalil dan pelaku pasar untuk menerapkan pembatasan atas dan bawah auto rejection yang tidak simetris cukup sulit dilakukan.

Sebab mekanisme yang berlaku pada Jakarta Automatic Trading System (JATS) bersifat simetris. Dalam konteks pembatasan auto rejection, JATS hanya bisa menerima perintah batas atas maupun bawah yang sejajar.

"Saat ini kami sedang melakukan modifikasi aplikasi JATS agar bisa menerima perintah yang tidak simetris antara batas atas dengan batas bawah," jelas Erry.

Oleh karena terdapat perbedaan basis sistem dalam JATS dengan apa diminta oleh Menneg BUMN Sofyan Djalil, BEI hingga saat ini masih terus mengupayakan agar aplikasi yang tidak simetris dapat diberlakukan sesegera mungkin.

"Masih kami upayakan. Sampai sistem ini bisa berjalan baru kami lakukan di pasar. Kapan akan diberlakukan saya tidak bisa jawab. Kami tidak mau memaksakan risikonya kalau menyebabkan sistem rusak. Kalau tidak jalan, kami tidak akan memberlakukan itu," ujar Erry. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads