"Mungkin bakal ada perubahan capex, tetapi perubahannya tidak banyak," kata Dirut SMGR Dwi Sutjipto, di kantor BUMN, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (16/10/2008).
Belanja modal SMGR tahun 2008 mencapai sekitar US$ 1,2 miliar hingga US$ 1,4 miliar. Namun akibat meningkatnya harga baja dan menguatnya dolar AS, capex diperkirakan akan melonjak hingga mencapai sekitar US$ 1,6 miliar.
Dwi tidak menyebutkan berapa besar capex tahun 2008 yang sudah digunakan perseroan. Ia hanya menjelaskan, untuk memenuhi capex tersebut perusahaan masih mengacu pada rencana semula, dengan mengkaji ulang beberapa proyek yang tidak terlalu mendesak. Kecuali untuk proyek penambahan kapasitas akan tetap dijalankan sesuai rencana.
Nantinya hasil evaluasi proyek yang tidak terlalu mendesak tersebut akan diberikan kepada pemegang saham minoritas apakah nantinya akan diteruskan atau tidak.
Untuk antisipasi capex yang kemungkinan membengkak tersebut, Dwi mengaku perseroan akan mengoptimalkan dana internal perseroan. Tapi ada juga yang nanti diperoleh dari luar perusahaan," ungkapnya.
Ia menjelaskan, perseroan memang membutuhkan pinjaman baik dalam bentuk rupiah maupun valas. "Sehingga jika ada proyek dalam porsi dolar kita biayai dengan dolar, jika rupiah kita biayai dengan rupiah," ujarnya.
Selain pinjaman perbankan, SMGR juga berencana menerbitkan obligasi sebesar US$ 300 juta yang dananya untuk pembangunan pabrik baru di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.
Dengan penambahan dua pabrik tersebut kapasitas produksi Semen Gresik pada 2012 bisa mencapai 21,9 juta ton per tahun. (ang/ir)










































