Bursa Wall Street Bangkit dari Keterpurukan

Bursa Wall Street Bangkit dari Keterpurukan

- detikFinance
Jumat, 17 Okt 2008 06:35 WIB
Bursa Wall Street Bangkit dari Keterpurukan
New-York - Saham-saham di Wall Street berhasil bangkit dari keterpurukan terbesar yang terjadi sehari sebelumnya. Indeks Dow Jones kembali mencatat penguatan spektakuler.

Pada perdagangan Kamis (16/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat hingga 401,35 poin (4,68%) ke level 8.979,26. Saham-saham tercatat bergerak sangat bergejolak, dengan total pergerakan berada dalam range 800 poin.

Saham-saham teknologi Nasdaq mengaut 89,38 poin (5,49%) ke level 1.717,71 dan indeks Standard & Poor's 500 naik 38,59 poin (4,25%) ke level 946,43.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasar dibuka dengan pelemahan yang cukup besar setelah keluarnya data perekonomian AS dan sentimen negatif pelemahan bursa-bursa global lainnya, termasuk Tokyo yang merosot hingga 11%. Namun saham-saham berbalik arah dengan cepat di akhir perdagangan.

"Anjloknya harga minyak secara tajam mungkin menaikkan mood di pasar. Pasar juga menyambut baik turunnya lagi suku bunga di pasar uang pagi ini," kata Al Goldman, analis dari Wachovia Securities seperti dikutip dari AFP, Jumat (17/10/2008).

Ia menjelaskan, pasar sebelumnya sempat terserang oleh sentimen resesi yang terbaca dari data produksi industri pada September yang menunjukkan penurunan hingga 2,8%. Namun sentimen membaik setelah harga minyak untuk kontrak New York untuk pertama kalinya anjlok di bawah US$ 70 per barel.

Nathan Topper dari Economy.com mengatakan, tanda-tanda membaiknya pasar kredit sudah muncul sehingga dapat meredam gejolak di pasar finansial. Hal ini terefleksikan pada tingkat suku bunga pinjaman antarbank LIBOR dan juga meluasnya kredit.

"Pasar utang kini menunjukkan kesehatan yang lebih baik, yield treasury (surat utang) dan LIBOR sudah turun, katanya.

Indeks Dow Jones pada perdagangan Rabu sebelumnya mencetak kejatuhan hingga 733 poin, atau nyaris mendekati kejatuhan terbesar yang dicetak bulan sebelumnya.

Gregory Drahuschak, analis dari sekuritas Janney Montgomery Scott mengatakan, aksi jual hebat perdagangan sebelumnya terjadi karena pada hedge fund dan manager portofolionya memaksa likuidasi besar-besaran untuk mencari dana tunai.

"Tipe panic selling itu mengerikan. Namun pada satu titik, aksi jual akan melambat dan selanjutnya akan menghilang," ujarnya.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads