Pekan Penuh Gejolak di Wall Street

Pekan Penuh Gejolak di Wall Street

- detikFinance
Sabtu, 18 Okt 2008 07:17 WIB
Pekan Penuh Gejolak di Wall Street
New-York - Bursa-bursa di Wall Street bergerak penuh gejolak sepanjang pekan ini, dipicu berbagai kabar tentang krisis finansial. Wall Street mengakhiri pekan ini dengan pelemahan.

Pada perdagangan Jumat (17/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average turun 127,04 poin (1,41%) ke level 8.852,22. Namun jika ditotal, indeks Dow Jones tercatat naik 4,8%, setelah pada pekan sebelumnya mencatat pelemahan yang mengerikan hingga 18%.

Sementara Nasdaq mengakhiri pekan ini dengan pelemahan 6,42 poin (0,37%) ke level 1.711,29 dan Standard & Poor's 500 turun 5,88 poin (0,62%) ke level 940,55.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dikutip dari Reuters, saham Caterpillar dan United Technologies sempat menyeret Dow Jones melemah, setelah keluarnya data pembangunan perumahan atau konstruksi baru yang turun ke titik terendah dalam 17,5 tahun terakhir. Data itu kembali memperkuat kekhawatiran tentang resesi di AS.

Namun rally saham-saham energi di akhir sesi mampu menahan laju pelemahan indeks Dow Jones.

Perdagangan saham di New York Stock Exchange masih berjalan dengan lesu dengan 1,74 miliar lembar saham yang beralih tangan. Angka ini lebih rendah dari rata-rata tahun lalu sebanyak 1,90 miliar. Sementara untuk Nasdaq, sebanyak 2,76 miliar lembar saham diperdagangkan, jauh di atas rata-rata tahun sebelumnya 2,17 miliar.

Para analis menyatakan, investor kini masih terus dibayangi dampak dari ketatnya likuiditas meski pemerintah di seluruh dunia sudah sepakat untuk menginjeksikan ratusan miliar dolar untuk membantu melonggarkan krisis likuiditas.

"Sayangnya, data menunjukkan bahwa pasar kredit masih sangat membeku," ujar Fred Dickson, analis dari DA Davidson & Co seperti dikutip dari AFP, Sabtu (18/10/2008).

Ia menjelaskan, mereka kini terus mencermati laporan keuangan emiten-emiten AS, untuk mencari tahu sejauh mana dampak krisis kredit terhadap bisnis mereka.

"Komentar para CEO dalam conference calls rilis tentang pendapatan tidak malu-malu menyebutkan dampak krisis kredit terhadap pembiayaan konsumen sebagai masalah besar dan sepertinya tidak akan tertinggal hingga tahun 2009," tambah Dickson. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads