Saham-saham komoditas baik tambang maupun sawit sedang dalam tren menurun seiring dengan melemahnya harga minyak dunia yang kini di level US$ 70 per barel.
Sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir saham komoditas menajdi idola karena tingginya harga minyak yang sempat terkerek hingga US$ 147 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor utama yang akan menekan IHSG adalah pergerakan saham global. Terlebih pada Jumat pekan lalu (17/10/2008) bursa saham di Wall Street juga masih negatif karena investor masih dibayangi ketatnya lukiditas akibat krisis finansial.
Pada perdagangan Jumat (17/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average turun 127,04 poin (1,41%) ke level 8.852,22. Nasdaq melemah 6,42 poin (0,37%) ke level 1.711,29 dan Standard & Poor's 500 turun 5,88 poin (0,62%) ke level 940,55.
Namun ada kabar baik dari bursa Asia yang pada pembukaan Senin pagi ini (19/10/2008) mengalami rebound seperti indeks Jepang naik 0,94%, Korea naik 1,3%.
Sedangkan IHSG pada penutupan perdagangan saham Jumat (17/10/2008) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 63,827 poin (4,36%) menjadi 1.399,424.
Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.
Optima Securities
Mulai dibukanya suspen terhadap saham ELTY, UNSP, dan BTEL menyebabkan investor sell off yang merupakan salah satu faktor terkoreksinya indeks 63 poin keposisi 1.399. Akibat ditutupnya bank Indover turut menjadi sentimen negatif terhadap dua emiten karena makin meningkatnya eksposure walaupun sebenarnya tidak seburuk yang diperkirakan investor. Bursa saat ini sangat sensitif terhadap isu-isu negatif sehingga mudah menimbulkan panic selling yang berlebihan.
Laporan keuangan dari sektor perbankan diperkirakan paling cepat keluar sehingga bisa mengcounter kekhawatiran terhadap sisi fundamental dan memberikan katalis penguatan indeks. Investor masih menunggu dampak saham BUMI dibuka kembali dari suspen untuk menentukan timing yang tepat masuk ke bursa. Indeks masih dalam downtrend bergerak dikisaran: 1.370 - 1.450 dengan pilihan saham: BYAN, SMGR, PTBA, TINS, dan TLKM.
eTrading Securities
Bursa Indonesia mengakhiri pekan kemarin dengan kembali melemah signifikan lebih dari 4%, akibat dipicu penurunan saham-saham Grup Bakrie seperti ELTY, UNSP dan BTEL yang sebagian telah dibuka perdagangannya. Indeks merosot 4,4% ke level 1399,4. Pasar masih belum mampu keluar dari tekanan sentimen global yang masih negatif seiring kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia dan pelemahan harga komoditas.
Sementara bursa US pada pekan lalu kembali ditutup melemah setelah kekhawatiran akan terjadinya resesi di US kembali merebak. Indeks kepercayaan konsumen di US kembali turun ke titik terendah. Dow terkoreksi - 1,4%, Nasdaq -0,4% dan S&P500 -%. Ke depan, investor akan lebih fokus melihat hasil kinerja 3Q yang mulai dirilis emiten-emiten di US.
Harga minyak sendiri pekan kemarin sempat menyentuh level US$68,5 meski kemudian rebound ke level US$73,2/barrel. Sementara bursa Asia pada perdagangan pagi ini mayoritas di buka menguat terkait bargain buying pada beberapa saham yang telah terkoreksi cukup dalam. Nikkei +1,7%, KOSPI +0,58%, STI +1% dan KS11 +0,3%.
Bursa Indonesia sendiri pada perdagangan hari ini berpotensi ikut mengalami rebound setelah ditutup di bawah level 1400 dengan saham-saham berfundamental kuat kembali berada di posisi 'murah'. Namun sentimen negatif dari saham-saham Bakrie diperkirakan masih akan menahan indeks untuk menguat signifikan. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 1370 - 1430.
(ir/ir)











































