"Hingga saat ini ujicoba aplikasi auto rejection asimetris masih belum berhasil. Namun akan terus kami coba lakukan," ujar Direktur Perdagangan Saham, Litbang BEI, MS Sembiring di kantornya, SCBD, Jakarta, Senin (20/10/208).
BEI masih melakukan ujicoba penerapan aplikasi tersebut. Sembiring mengatakan terdapat perbedaan sistem dasar Jakarta Automatic Trading System (JATS) sehingga penerapan auto rejection asimetris sulit diberlakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, BEI masih belum dapat memberlakukan auto rejection asimetris lantaran sistemnya belum siap.
Jika tidak bisa diberlakukan dengan sistem JATS, Sembiring mengharapkan aplikasi auto rejection asimetris bisa diterapkan dengan sistem penyempurnaan JATS yang direncanakan beroperasi akhir tahun ini.
"Kalau tidak bisa sekarang, sepertinya dengan sistem penyempurnaan JATS yang sedang dilakukan OMX bisa berjalan. Karena sistem yang sedang dibangun OMX lebih fleksibel," ujar Sembiring.
OMX merupakan perusahaan yang ditunjuk BEI sejak awal tahun 2008 untuk menyempurnakan sistem JATS agar bisa memperdagangkan semua produk pasar modal. Investasinya ditaksir sebesar Rp 75 miliar. Sistem ini ditargetkan beroperasi pada akhir tahun 2008.
Sistem baru yang sedang dibangun OMX diharapkan bisa menjalankan aplikasi auto rejection asimetris.
BEI masih mengupayakan agar penerapan sistem penolakan transaksi secara otomatis (auto rejection) yang tidak simetris antara batas atas dengan batas bawah bisa berjalan. Hal ini seiring dengan permintaan banyak pihak agar BEI melepas batas atas auto rejection dan untuk batas bawah tetap 10%.
Saat ini BEI masih menerapkan batas atas dan batas bawah auto rejection sebesar 10% yang diperketat dari sebelum krisis sebesar 30%. (dro/ir)











































