Bapepam Bantah Tutup Pusat Informasi Reksa Dana

Bapepam Bantah Tutup Pusat Informasi Reksa Dana

- detikFinance
Rabu, 22 Okt 2008 11:39 WIB
Bapepam Bantah Tutup Pusat Informasi Reksa Dana
Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan menegaskan tidak pernah menutup Pusat Informasi Reksa Dana yang ada di situsnya saat pasar reksa dana sedang ramai terkena aksi penarikan atau redemption. Akses informasi tidak bisa dibuka karena sedang upgrade sistem.

"Kita sedang melakukan perbaikan sistem laporan dari manajer investasi dari semula hard copy akan diubah jadi soft copy, jadi bukan ditutup," kata Kabiro Transaksi dan Lembaga Efek Djoko Hendratto ketika dihubungi detikFinance, Rabu (22/10/2008).

Restrukturisasi sistem tersebut menurut Djoko, diperlukan untuk meningkatkan risiko monitoring sebagai bentuk early warning system.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbaikan mesin ini ungkap Djoko sudah diumumkan sejak sebelum puasa, namun sejumlah pelaku pasar mengaku masih bisa mengakses data reksa dana setelah libur lebaran.

Djoko membantah jika alasan perbaikan itu untuk menghindari keterbukaan informasi ke publik di saat pasar sedang goyah.

"Kalau mau mengait-ngaitkan semua bisa dikaitkan, tapi alasan yang benar karena sedang melakukan perbaikan mesin," katanya.

Setelah perbaikan sistem selesai yang diperkirakan rampung pekan depan, menurut Djoko akan ada perbedaan penyajian informasi. Data redemption atau subscription tetap ada hanya bersifat bulanan bukan harian.

Jika sebelumnya data harian bisa ditampilkan, kini Bapepam hanya menyajikan data bulanan. "Kan investor tidak harus melihat data harian, mereka bisa mengeceknya tiap bulan, kalau yang harian tetap ada tapi itu untuk internal," katanya.

Ekonom dan Manajer Investasi NISP Sekuritas, Siswa Rizali dalam perbincangannya dengan detikFinance, Rabu (22/10/2008) mengatakan dalam kondisi seperti ini seharusnya informasi dan data itu makin terbuka.

Transparansinya data informasi reksa dana, menurut Rizal, sangat dibutuhkan saat ini untuk menghindari munculnya berita-berita yang sifatnya spekulasi dan tidak didasarkan pada data yang sesungguhnya.

"Pemerintah mengatakan investor reksa dana jangan panik, tapi sekarang data malah ditutup. Takutnya nanti malah muncul berita yang sifatnya spekulasi," ujarnya. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads