Transaksi Sepi, IHSG Anjlok Tajam

Transaksi Sepi, IHSG Anjlok Tajam

- detikFinance
Rabu, 22 Okt 2008 16:08 WIB
Transaksi Sepi, IHSG Anjlok Tajam
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam di tengah sepinya transaksi. Saham-saham unggulan berjatuhan karena investor cemas terhadap penurunan bursa saham Asia dan Wall Street yang menular ke Bursa Efek Indonesia.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (22/10/2008) IHSG terjatuh hingga 60,406 poin (4,19%) menjadi 1.379,743.

Indeks LQ-45 turun 15,071 poin (5,37%) menjadi 265,795 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 10,992 poin (4,85%) menjadi 215,871.
Β 
Perdagangan saham hari ini relatif sepi dengan mencatat transaksi sebanyak 36.806 kali, pada volume 1,562 miliar unit saham, senilai Rp 1,563 triliun. Sebanyak 28 saham naik, 145 saham turun dan 38 saham stagnan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 500 menjadi Rp 6.600, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 3.900, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 60 menjadi Rp 1.100, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 90 menjadi Rp 1.630, Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 150 menjadi Rp 2.650 dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 750 menjadi Rp 10.750

Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, Bayan Resources (BYAN) naik Rp 160 menjadi Rp 1.850, Bank Internasional Indonesia (BNII) naik Rp 5 menjadi Rp 480 dan Indika Energy (INDY) naik Rp 60 menjadi Rp 1.780. Β 

IHSG mengikuti penurunan bursa saham Asia yang anjlok seperti Hang Seng turun 5,15%, KOSPI turun 4,92%, Nikkei turun 6,79%, Shanghai turun 3,2%, STI Singapura turun 5,52%.

Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito saat dihubungi detikFinance, Rabu (22/10/2008) menilai tipisnya transaksi karena investor masih menunggu waktu yang tepat untuk masuk.

"Saya kira investor-investor sudah memiliki semangat untuk kembali masuk ke bursa. Namun sepertinya mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk masuk secara besar-besaran. Perlu sentimen positif yang bersifat global untuk mendorong mereka masuk," ujar Eddy.

Menurutnya salam kondisi seperti ini, dimana likuiditas sangat ketat dengan volatilitas tinggi memang dapat dimaklumi jika banyak investor besar cenderung membatasi dananya untuk masuk ke bursa, meski sebenarnya dananya ada.

Eddy mengatakan investor-investor butuh sentimen positif yang sangat kuat, sehingga bisa mendorong mereka masuk. Apalagi, Eddy menambahkan, harga-harga saham sudah sangat murah.

"Dengan harga saham sangat murah, sebenarnya mereka sudah masuk sekarang. Namun mereka belum melihat adanya sentimen positif global yang bisa membawa pasar menuju kestabilan," jelas Eddy.

Analis PT BNI Securities Muhammad Alfatih mengatakan, dalam kondisi seperti ini, investor cenderung wait and see. Menurut Alfatih, dengan kondisi likuiditas ketat dan volatilitas tinggi, risiko investor untuk masuk dalam skala besar cukup tinggi.

"Risikonya tinggi jika mereka masuk sekarang. Jadi mereka cenderung menahan diri atau wait and see untuk melakukan pembelian baru," ujar Alfatih. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads