Pada perdagangan Rabu (22/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 514,45 poin (5,69%) ke level 8.519,21.
Indeks Standard & Poor's 500 melemah 58,27 poin (6,10%) ke level 896,78, yang merupakan level terendah sejak April 2003.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anjloknya harga komoditas membuat saham-saham sektor ini terus berjatuhan. Saham ExxonMobil tercatat paling besar penurunannya hingga 10%.
Sementara saham Boeing Co, juga turun hingga 7,5% setelah mengumumkan labanya turun tajam. Saham AT&T merosot 7,6% setelah perusahaan telekomunikasi itu mengumumkan labanya turun tajam.
Wachovia Corp yang baru saja mengumumkan kerugian hingga US$ 23,9 miliar, harga sahamnya juga langsung jatuh. Setelah mengumumkan angka kerugian terbesar dalam sejarah perbankan AS itu, harga Wachovia yang baru saja dibeli Wells Fargo & Co langsung anjlok 6,2%.
Anjloknya aset-aset emerging market termasuk melebarnya tingkat utang menunjukkan bahwa krisis kredit yang bermula di AS dan Eropa kini mulai memukul negara-negara berkembang. Saham-saham di berbagai belahan dunia pun kemarin terpukul.
Bursa Asia dan Eropa kemarin berjatuhan. Indeks FTSE 100 turun 4,46%, CAC 40 Paris turun 5,10%, DAX Frankfurt merosot 4,46%. Sementara di Brasil, bursa terpaksa menghentikan sementara perdagangan sahamnya selama 30 menit setelah merosot lebih dari 10% karena jatuhnya harga komoditas. Bursa Brasil akhirnya ditutup merosot 10,18%.
"Tema-temanya semua masih sama: keprihatinan soal resesi global, deflasi dan juga perhatian akan berkurangnya permintaan dunia," ujar Michael James, pialang senior dari Wedbush Morgan seperti dikutip dari Reuters, Kamis (23/10/2008).
Sementara Fred Dickson dari DA Davidson & Co mengatakan, investor kini fokus pada keluarnya laporan keuangan emiten.
"Berita-berita tentang pendapatan perusahaan yang telah memukul saham-saham dalam dua hari terakhir lebih pesimistis dibandingkan laporan pada bulan sebelumnya," ujar Dickson seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































