Keyakinan para pemimpin ASEAN+3 itu tercuat dalam pertemuan di Beijing Jumat pagi (24/10/2008). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta para pemimpin negara-negara ASEAN +3 melakukan break fast meeting di Great Hall of the People's untuk membahas krisis ekonomi yang melanda dunia.
Dalam pertemuan tersebut, dihasilkan beberapa kesepakatan di antaranya menyediakan dana sekitar US$ 80 miliar dolar untuk mengatasi krisis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke depan lanjut Dino, negara-negara Asia perlu memperkuat multilateralisasi inisiatif Chiang Mai dan akan segera dilakukan tahun ini juga. Dalam pertemuan tersebut, lanjut Dino, para pmimpin Asia sepakat untuk memberi dukungan terhadap integrasiekonomi Asia.
"Jadi diharapkan kondisinya lebih baik lagi," imbuhnya.
Dalam kesempatan ini, Presiden SBY juga menekankan agar negara-negara Asia tidak saling mengamankan diri masing-masing dalam menghadapi krisis. Karena hal ini justru dianggap berbahaya.
"Presiden SBY mengusulkan jangan sampai situasi ini menciptakan benteng-benteng pertahanan sendiri. Jadi jangan sampai semakin kendur kerjasama ekonominya, agar ekonomi justru semakin sehat," ujar Dino menirukan apa yang dikatakan oleh SBY.
Usai breakfast meeting, Presiden SBY melakukan video conference dengan PM Polandia, PM Denmark dan PM PBB. Dalam video conference tersebut, juga disepakati agar adanya krisis ekonomi global ini tidak berpengaruh terhadap komitmen negara-negara di dunia untuk mengatasi perubahan iklim.
"Justru harusnya krisis ini bisa menjadi peluang untuk menciptakan ekonomi beremisi rendah," pungkasnya. (anw/ir)











































