Wall Street Ikut Babak Belur

Wall Street Ikut Babak Belur

- detikFinance
Sabtu, 25 Okt 2008 08:02 WIB
Wall Street Ikut Babak Belur
New-York - Menyusul kejatuhan bursa-bursa Asia dan Eropa, bursa Wall Street pun ikut babak belur. Saham-saham kembali mendapat tekanan dengan sentimen kekhawatiran resesi yang akan menghantam kinerja industri.

Dalam sebuah perdagangan yang penuh gejolak pada Jumat (24/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 312,30 poin (3,59%) ke level 8.378,95. Indeks Dow Jones bergerak dalam kisaran hingga 500 poin.

Indeks Teknologi Nasdaq merosot 51,88 poin (3,23%) ke level 1.552,03 dan Standard & Poor's 500 merosot 31,34 poin (3,45%) ke level 876,77.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemerosotan saham-saham di Wall Street ini mengikuti pelemahan di Asia dan Eropa sebelumnya. Di Asia, bursa Tokyo merosot hingga 9,6%, sementara bursa Eropa rata-rata turun hingga 5%.

Kejatuhan bursa-bursa saham ini terjadi karena kepanikan pasar. Investor ramai-ramai menarik dananya karena khawatir perekonomian negara-negara maju akan menghadapi resesi dan selanjutnya menyeret ke negara-negara berkembang, terutama yang bergantung pada ekspor.

"Kerusuhan ini terjadi karena kekhawatiran tentang resesi global yang akan mengganggu kinerja laba perusahaan," ujar Jason Kunkel dari Economy.com seperti dikutip dari AFP, Sabtu (25/10/2008).

Al Goldman dari Wachovia Securities mengatakan, kejatuhan pasar terjadi karena aksi jual besar-besaran oleh hedge fund yang menggunakan dana pinjaman dan harus memenuhi kewajiban redemptions.

"Penyebab utama adalah karena hedge fund terus ditekan untuk berada dalam posisi likuidasi karena mereka sangat banyak rasio utangnya sehubungan dengan Credit Default Swap (CDS). Rasio utangnya diperkirakan mencapai 30 sampai 40 kali.," jelasnya.

"Kita sekarang mencapai satu titik dimana fundamental dan valuasi jangka panjang tidak lagi menjadi hal yang penting di pasar finansial," jelas ekonom Nouriel Roubini dari New York University.

"Apa yang penting saat ini hanyalah aliran, ketimbang saham-saham dan fundamental. Dan yang mengalir adalah tidak satu arah karena setiap orang menjual dan tidak ada seorang pun yang membeli karena siapapun yang membeli saham-saham seperti menangkap pisau yang jatuh," ujarnya.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads