Orang pun mengkaitkan bulan Oktober sebagai bulan penuh kesialan untuk pasar saham. Boleh percaya, boleh tidak.
Yang pasti, selama Oktober 2008, pasar saham di berbagai belahan dunia terantuk-antuk ke level terendahnya akibat rangkuman berbagai sentimen negatif. Peristiwa yang sama terjadi di bulan Oktober, 79 tahun silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwanya ditandai dengan 'Black Monday' yang terjadi pada 28 Oktober 1929. Saat itu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) tercatat merosot hingga 12,82%. Hari berikutnya dikenal dengan 'Black Tuesday' yakni saat indeks Dow Jones kembali merosot hingga 11,73% pada 29 Oktober 1929.
Sementara pada Oktober 2008, indeks Dow Jones sudah sial sejak awal bulan. Dow Jones mengawali bulan Oktober dengan hingga 3,22%. Indeks Dow Jones terus menerus mengalami kejatuhan terbesar, bahkan hampir seburuk saat peristiwa Great Depression.
Dan pada Jumat, 24 Oktober 2008, indeks Dow Jones masih ditutup merosot 312,30 poin (3,59%) ke level 8.378,95. Seperti dikutip dari Reuters, sepanjang bulan Oktober, indeks Dow Jones tercatat merosot hingga 22,8%, S&P 500 merosot 24,7%.
Reuters mencatat, kejatuhan pasar di bulan Oktober juga terjadi pada tahun 1987 dan 1929, termasuk pelemahan tajam pada 27 Oktober 1997.
Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pun tak bisa lepas dari kesialan untuk bulan Oktober 2008 ini. Catatan kelam BEI terjadi pada 8 Oktober 2008, saat lantai bursa untuk pertama kalinya ditutup karena transaksi perdagangan yang terus merosot.
Kesialan-kesialan juga terus dicetak BEI sejak awal Oktober. Sempat libur perdagangan selama 4 hari karena lebaran, IHSG terus terguling hingga pada 24 Oktober lalu ditutup terpuruk ke level 1.244,864, yang merupakan level terendah sejak Juni 2006.
Kemerosotan ini tampaknya sedikit tertolong oleh auto rejection batas atas bawah 10% yang diterapkan oleh BEI. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja tak ada aturan auto rejection itu.
Bursa-bursa dunia lain pun mencatat pelemahan terburuk sepanjang Oktober. Tak ada bursa dunia yang kebal dari kejatuhan selama bulan Oktober 2008 ini.
Terlepas dari faktor kebetulan sial atau tidak, namun yang pasti kejatuhan bursa-bursa dunia kali ini terutama dipicu oleh kekhawatiran investor akan kondisi institusi finansial yang berjatuhan dan harus mendapatkan suntikan dana dari pemerintah.
Kecemasan investor makin menjadi-jadi setelah Lehman Brothers bangkrut, dan diikuti oleh AIG yang harus diselamatkan pemerintah AS. Kejatuhan itu diikuti oleh institusi finansial besar dari berbagai belahan dunia seperti Fortis, ING dll.
Amerika bahkan menyiapkan dana talangan hingga US$ 700 miliar untuk menyelamatkan institusi finansialnya, setelah raksasa bank investasi Lehman Brothers bangkrut. Sementara masing-masing negara Eropa juga menyiapkan dana talangan hingga ratusan miliar dolar juga.
Terbaru adalah pendanaan melalui mekanisme swap yang disediakan oleh ASEAN+3 atau ASEAN tambah Korsel, China dan Jepang sebesar US$ 80 miliar untuk menghadapi krisis.
Bagaimana prospek pasar saham untuk pekan ini?
Semua mata kini akan tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committe (DOMC) selama dua hari yang akan mulai diselenggarakan pada Selasa, 28 Oktober 2008.
Para analis memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunganya 50 basis poin dari 1,5% menjadi 1%. Sebagian lagi bahkan memperkirakan ada kemungkinan hingga 20%, the Fed akan memangkas suku bunganya lebih agresif menjadi 0,75%.
"Antisipasinya adalah the Fed akan menurunkan suku bunga. Pertanyaannya adalah: seberapa besar?" ujar Bucky Hellwig, senior vice president Morgan Asset Management seperti dikutip dari Reuters.
"Penurunan suku bunga kemungkinan tidak akan memberi banyak keuntungan ke pasar. Secara psikologis, penurunan suku bunga yang lebih besar dari ekspektasi akan mengkongirmasi bahwa the Fed sesungguhnya menggunakan seluruh senjata dalam rangka mencoba dan membuat kejatuhan kali ini tidak terlalu menyakitkan," imbuhnya.
Sentimen lainnya adalah dari pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) AS yang akan diumumkan pada Kamis. Dari data itulah orang akan mengetahui, seberapa jauh kejatuhan ekonomi AS.
Para analis berpendapat, pekan ini akan menjadi momen yang krusial untuk pasar saham karena begitu banyak data yang keluar.
(qom/qom)











































