IHSG Masih Mengkhawatirkan

IHSG Masih Mengkhawatirkan

- detikFinance
Senin, 27 Okt 2008 08:25 WIB
IHSG Masih Mengkhawatirkan
Jakarta - Harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih dalam posisi tertekan dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masuk dalam zona yang mengkhawatirkan.

Pada perdagangan saham Senin (27/10/2008) IHSG diprediksi masih akan mengikuti pergerakan bursa regional yang hingga saat ini masih dalam posisi melemah.

Investor masih belum percaya diri melakukan pembelian saham di tengah pasar yang kurang kondusif ini. Minimnya sentimen positif makin menambah rasa malas investor berburu saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Indeks Nikkei-225 di Bursa Saham Tokyo Senin pagi ini dibuka melemah 80,72 poin (1,06%) ke level 7.568,36. Ini adalah level terendah di Bursa Tokyo sejak era 1980-an

Indeks KOSPI di Korsel juga dibuka melemah tipis 1,57 poin (0,2%) ke level 937,18. Sementara indeks S&P/ASX di Australia dibuka turun 70 poin ke level 3.799,4.

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari pelemahan di Wall Street yang terjadi di akhir pekan lalu. Dalam sebuah perdagangan yang penuh gejolak pada Jumat (24/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 312,30 poin (3,59%) ke level 8.378,95.

Investor kini sedang menunggu keputusan Bank Sentral AS yang akan menggelar pertemuan selama 2 hari mulai 28 Oktober, serta data pertumbuhan PDB AS.

Sementara pada penutupan perdagangan saham akhir Jumat pekan lalu (24/10/2008) IHSG anjlok 92,390 poin (6,91%) menjadi 1.244,864.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

Panin Sekuritas


IHSG sepanjang pekan lalu anjlok -11.04% menyusul kekhawatiran akan dampak resesi global. Transaksi perdagangan yang terjadi juga relatif rendah. Investor terindikasikan masih enggan masuk kembali di pasar modal, dan memilih untuk menunggu indeks mencapai bottom-nya. Nilai tukar Rupiah yang anjlok hingga menembus batas psikologis 10.000 menambah berita buruk bagi pasar. Sementara pekan ini kami perkirakan IHSG masih akan bergerak dengan kecenderungan melemah. Disamping minimnya sentimen positif, pasar juga masih menanti dampak dari pembukaan suspensi perdagangan Grup Bakrie (BUMI, BNBR,dan ENRG). Perkembangan berita dari regional tampaknya masih akan menjadi acuan bagi investor. Kisaran support-resistance 1.100-1.310.

Optima Securities


Indeks terseret bursa saham Asia yang melorot tajam seperti Hang Seng turun 8,3%, Kospi turun 10,33%, Nikkei turun 9,6%, dan STIΒ  turun 8,73% sehingga ditutup turun 92 poin (6,91%) menjadi 1.244 yang merupakan posisi terendah sejak Juni 2006. Investor makin panik tatkala bursa Eropa saat dibuka juga tertekan hebat. Bagusnya laporan keuangan emiten ternyata tidak mampu mengurangi kecemasan pelaku pasar. Investor terpaksa melakukan cut loss menghindari kerugian lebih dalam lagi jika indeks Dow Jones terkoreksi tajam. Sementara itu KTT Asian Europe Meeting (ASEM) dan sidang OPEC diharapkan membawa sentimen positif. Selanjutnya indeks diperkirakan bergerak dilevel 1.200-1.280 dengan pilihan saham: BNII, APEX, dan BBCA.

eTrading Securities

Bursa Indonesia akhirnya pada pekan kemarin ditutup menyentuh titik terendah sejak Juni 2006 di level 1244,8 atau kembali turun 150 poin selama sepekan kemarin. Penurunan indeks masih sangat didominasi oleh sentimen negatif penurunan bursa Global dan diperparah dengan pelemahan rupiah yang mencapai Rp10.300/US$, terendah dalam 3 tahun terakhir. Rata-rata transaksi pekan kemarin pun hanya sekitar Rp1,8 triliun yang menandakan investor masih menahan diri untuk masuk ke bursa.

OPEC pada pekan lalu telah mengumumkan akan memotong produksi minyak sebesar 1,5 juta bpd mulai awal November untuk menjaga harga minyak tetap di atas level US$70/barrel. Namun langkah ini belum mampu meredam sentimen negatif dari potensi penurunan konsumsi minyak dunia, harga minyak kembali terkoreksi ke level US$64/barrel.

Sementara bursa US pada perdagangan akhir pekan lalu kembali terkoreksi, terutama masih disebabkan oleh kekhawatiran akan memburuknya profitabilitas kinerja emiten pada kondisi krisis finansial kedepan. Terus naiknya angka pengangguran US juga akan memperlemah daya beli masyarakat yang berujung pada krisis di sektor riil US. Dow Jones turun -3,6%, Nasdaq -3,2%, dan S&P500 -3,4%. Terkait hal ini, bursa Asia pada perdagangan awal pekan ini dibuka mixed kecenderungan menguat. Investor mulai melakukan bargain buying pada saham-saham berfundamental bagus yang telah terkoreksi dalam. Nikkei +1,2%, Seoul Composite +1,6%, dan AORD -0,6%.

Bursa Indonesia pada perdagangan hari ini masih akan bergerak mixed seiring dengan pergerakan bursa Asia, karena minimnya sentimen segar dari dalam negeri. Penurunan nilai tukar rupiah juga masih menjadi kekhawatiran investor. Meski beberapa saham seperti PTBA, TINS, ASII, AALI dan PGAS telah kembali memasuki level terendah sejak 2-3 tahun terakhir, namun investor masih belum mau melihat sisi fundamental dan tetap mengandalkan sentimen jangka pendek untuk masuk ke bursa. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 1175 - 1280. (ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads