"Kami khawatir dengan gejolak yang berlebihan atas mata uang yen akhir-akhir ini dan kemungkinan implikasi kedepannya terhadap perekonomian dan stabilitas finansial," demikian pernyataan dari G7 seperti dikutip dari AFP, Senin (26/10/2008).
G7 terdiri dari negara-negara maju seperti Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat. Mereka bersuara setelah yen menguat tajam akibat aksi reverse carry trade.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yen terlihat seperti mata uang yang aman, sehingga ketika risiko meningkat, yen akan menguat," ujar Tomoko Fujii, kepala ekonom dari Bank of America seperti dikutip dari AFP.
Dalam beberapa tahun terakhir, carry trade memang sedang menjadi tren. Investor meminjam uang untuk selanjutnya membeli aset-aset yang memberikan yield tinggi namun dengan risiko yang besar, seperti di pasar negara berkembang (emerging).
Namun seiring ketidakpastian di pasar yang sangat tinggi, investor berbalik arah. Mereka melepas aset-asetnya di emerging markets, untuk selanjutnya dibelikan aset dalam denominasi yen.
"Ketika Anda tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya, maka Anda akan cenderung menempatkan dana ke tempat yang paling aman," ujar analis dari Credit Suisse, Satoru Ogasawara.
Namun penguatan yen itu justru menjadi kabar buruk bagi Jepang, yang perekonomiannya sangat tergantung pada eksportir. Investor pun khawatir kinerja perusahaan-perusahaan Jepang akan terpukul.
Pernyataan bersama dari G7 itu langsung membuat yen sedikit melemah. Yen selanjutnya menyentuh 94,11 dolar, sesaat setelah pernyataan G7 dibandingkan sebelumnya di level 93,90 dolar. Yen sebelumnya sempat menguat tajam ke level tertingginya dalam 13 tahun terakhir. (qom/ddn)











































