"PGN mengalami engine problem, akibatnya suplai gas terhenti dan perseroan tidak dapat menjalankan proses produksinya," kata Direktur Surabaya Agung, Sinduchayana Sulistyo dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/10/2008).
Sinduchayana mengatakan, hingga saat perseroan belum mengetahui pasti kapan PGAS dapat memberikan kembali pasokan gas lantaran kerusakan belum dapat diperbaiki dalam waktu dekat. Manajemen SAIP telah meminta PGAS agar kerusakan segera diperbaiki, sehingga pasokan gas dapat kembali normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat terhenti produksinya, manajemen perseroan meminta kepada para kreditor untuk melakukan penjadwalan ulang (reschedule) pembayaran bunga utang yang jatuh tempo pada tanggal 29 September 2008 dan 30 Desember 2008. Untuk bunga periode 28 Juni - 29 September 2008 dia meminta, menjadwal ulang menjadi 28 Januari 2009, sedangkan bunga periode 29 September - 30 Desember 2008 dijadwal ulang menjadi 30 Maret 2009.
"Kami juga meminta penghapusan default interest dan bunga atas penjadwalan kembali pembayaran bunga tersebut," katanya.
Selain karena masalah terhentinya produksi, penjadwalan ulang pembayaran bunga tersebut disebabkan beberapa hal, yaitu kendala arus kas yang disebabkan krisis keuangan global sehingga perbankan kesulitan likuiditas.
"Akibatnya Bank Mandiri sebagai debitor tidak dapat melakukan negosiasi (pendanaan) wesel ekspor kami," katanya.
Dampak dari hal tersebut mengakibatkan Surabaya Agung harus melakukan collection atas wesel ekspor yang memakan waktu 3 - 4 minggu dari tanggal pemberangkatan kapal.
Faktor penurunan harga jual kertas juga menyebabkan perseroan tidak lagi mendapat order sebagaimana bulan-bulan sebelumnya, sehingga perseroan meminta penjadwalan kembali utang-utangnya.
"Kondisi ini membuat para pelanggan menunggu saat yang lebih baik untuk mendapatkan harga yang lebih murah," katanya.
Di lain pihak, jelas Sinduchayana, penjualan kertas domestik yang menggunakan denominasi dolar juga tertekan akibat melemahnya rupiah dari Rp 9.000 menjadi di atas Rp 10.000.
Dengan meningkatnya nilai tukar dolar, maka pelanggan langsung menghentikan pembayaran karena keterbatasan dana. Selain itu, mereka juga menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembelian mata uang dolar.
(dro/ir)











































