Pada perdagangan saham sesi I, Senin (27/10/2008) IHSG anjlok 82,456 poin (6,62%) menjadi 1.162,408. IHSG mengalami tekanan yang dalam karena faktor eksternal dari melemahnya busa saham di Asia.
Sedangkan rupiah lebih parah lagi yang hingga perdagangan valas pukul 12.00 WIB turun tajam 595 poin ke posisi 10.600 per dolar AS. Rupiah terus terpukul di level rendah karena penarikan investasi oleh asing sulit dicegah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku pasar, kata Toni, memandang pesimistis dengan keadaan pasar dan mencoba kembali masuk ke pasar uang di AS sehingga akhirnya membuang rupiah.
BI diketahui sudah melakukan intervensi maskimal namun dolar AS tetap saja bergerak liar yang memukul hampir sebagian besar mata uang Asia.
Sementara bursa saham Asia lainnya juga berantakan pada sesi siang ini seperti Hang Seng turun 4,22%, Seoul turun 3,84%, KOSPI turun 3,24%, Nikkei turun lebih dari 5%, Taiwan turun 5,68%. Sementara Bursa Filipina yang sempat disuspensi, akhirnya ditutup merosot 12,3%.
Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 12.527 kali, dengan volume 672 juta saham, senilai Rp 522 miliar. Hanya 5 saham yang naik, 149 saham turun dan 20 saham stagnan.
Saham-saham yang anjlok harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 550 menjadi Rp 5.350, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 450 menjadi Rp 4.150, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 90 menjadi Rp 850, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 325 menjadi Rp 2.950 dan Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 130 menjadi Rp 1.220.
Bursa saham di Asia turun dalam karena pasar finansial yang terus dihantui sentimen resesi ekonomi yang kini tidak hanya terjadi di AS dan Eropa namun juga mulai menjalar ke Asia.
Bursa saham Filipina bahkan ditutup pada 30 menit perdagangan sesi satu karena kejatuhannya yang mencapai 10 persen.
(ir/qom)











































