IHSG Terendah Sejak Desember 2005

Updated

IHSG Terendah Sejak Desember 2005

- detikFinance
Senin, 27 Okt 2008 16:15 WIB
IHSG Terendah Sejak Desember 2005
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpental cukup dalam ke zona negatif karena terseret pelemahan bursa saham global. IHSG makin tak berdaya dan berada di posisi terlemahnya sejak Desember 2005 (sebelumnya ditulis Agustus 2005).

Pada perdagangan saham Senin (27/10/2008) IHSG anjlok 78,455 poin (6,3%) menjadi 1.166,409. Indeks LQ-45 turun 16,709 poin (7,12%) menjadi 217,824 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 13,876 poin (7,15%) menjadi 180,075.

Pelaku pasar terus melakukan aksi jual karena cemas terhadap kondisi IHSG yang terus menunjukkan tren menurun yang diprediksi bisa kembali ke level 1.000. Untung saja ada auto rejection 10% yang menahan laju pelemahan saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara bursa saham Asia lainnya juga berantakan pada hari ini seperti Hang Seng turun tajam hingga 12,7%, Shanghai turun 6,32%, Taiwan turun 4,68% dan Nikkei turun 6,63% yang terendah sejak 26 tahun terakhir. Sedangkan indeks KOSPI Korea ditutup naik 0,8% setelah Bank Sentral Korea secara dramatis menurunkan suku bunga 75 basis poin menjadi 4,25%.

Begitu pula dengan saham-saham di Eropa pada sesi satu hari ini seperti di London dan Prancis rata-rata turun 5%.

Perdagangan saham hari ini sangat sepi dengan mencatat transaksi sebanyak 19.205 kali, pada volume 1,632 miliar unit saham, senilai Rp 1,161 triliun. Hanya 14 saham yang naik, 162 saham turun dan 19 saham stagnan.

Saham-saham yang anjlok harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 550 menjadi Rp 5.350, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 450 menjadi Rp 4.150, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 90 menjadi Rp 850, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 325 menjadi Rp 2.950 dan Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 130 menjadi Rp 1.220.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, Indosat (ISAT) naik Rp 450 menjadi Rp 5.000, Apexindo Pratama Duta (APEX) naik Rp 50 menjadi Rp 2.200 dan Kawasan Industri Jababeka (KIJA) naik Rp 1 menjadi Rp 51.

Bursa saham di Asia turun dalam karena pasar finansial yang terus dihantui sentimen resesi ekonomi yang kini tidak hanya terjadi di AS dan Eropa namun juga mulai menjalar ke Asia.

Bursa saham Filipina bahkan ditutup pada 30 menit perdagangan sesi satu karena kejatuhannya yang mencapai 10 persen, sebelum akhirnya ditutup merosot 12,3%.

(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads