"Tren IHSG terus menurun, terutama jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi makro saat ini. Potensi menembus level 1.000 sangat mungkin terjadi. Dalam keadaan yang sudah di luar kewajaran seperti ini, segalanya bisa terjadi," ujar analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikfinance, Senin (27/10/2008).
Pada perdagangan saham Senin (27/10/2008) IHSG anjlok 78,455 poin (6,3%) menjadi 1.166,409. Perdagangan saham hari ini sangat sepi dengan mencatat transaksi sebanyak 19.205 kali, pada volume 1,632 miliar unit saham, senilai Rp 1,161 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga minyak sudah tembus US$ 61,5 per barel, harga emas juga turun 20 poin, harga-harga komoditas juga terus menurun, kecuali nikel yang sempat rebound. Namun diperkirakan tidak akan bertahan lama. Penurunan bakal terus terjadi. Ini akan berdampak pada perlambatan ekonomi dunia yang bisa menyebabkan resesi," ulas Mastono.
Beberapa faktor di atas mendorong bursa global terjebak dalam tren penurunan akibat kesulitan likuiditas di sektor riil. Hal ini ditunjukka dengan kejatuhan bursa Eropa yang penurunannya rata-rata di atas 4,5%, kemudiann juga bursa Asia yang anjlok cukup tajam dengan rata-rata penurunan di atas 7%.
"Hang Seng bahkan anjlok sampai 12%. Bursa Filipina anjlok tajam 12% sampai akhirnya disuspensi. Penurunan IHSG sepertinya cukup tertahan oleh batas bawah auto rejection," jelas Mastono.
Sementara indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) masih ditunggu-tunggu pergerakannya malam nanti. Menurut Mastono, jika DJIA anjlok sampai 1.000 poin, dapat dipastikan IHSG bakal menembus level 1.000.
"Kita harapkan itu tidak terjadi dalam waktu dekat," ujar Mastono.
Sehubungan dengan itu, analis PT Relliance Securities, Gina Nasution mengatakan kejatuhan IHSG hingga menembus level 1.000 bakal terjadi dalam waktu dekat.
"Ketika IHSG masih di level 1.700, supportnya berada di level 1.300. Jika sekarang support tersebut sudah ditembus dan IHSG berada di level 1.100, maka support IHSG berikutnya berada di level 900. Level tersebut bisa saja ditembus dalam pekan ini," ujar Gina.
Kendati demikian, Mastono mengatakan salah satu harapan yang dapat mendorong likuiditas masyarakat Indonesia sehingga bisa memicu rebound IHSG adalah kucuran dana APBN yang belum digunakan pemerintah.
"Pemerintah baru menggunakan dana APBN sebesar 65%, jadi masih ada 35% yang belum digunakan. Dana itu harus digunakan dalam dua bulan terakhir tahun ini. Kita harap dengan kucuran APBN 35% hanya dalam waktu singkat selama dua bulan dapat meningkatkan likuiditas di masyarakat sehingga bisa memicu rebound IHSG," jelas Mastono.
(dro/qom)











































