"Program buy back BUMN sebetulnya tidak tepat sasaran. Perlu strategi khusus karena dengan kondisi pasar global ini kita tidak mungkin melawan. Apalagi buy back ini hanya untuk BUMN yang kapitalnya besar dan itu sedikit," ujar Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito.
Demikian disampaikan disela RUPSLB BEI di hotel Dharmawangsa, Jl Brawijaya, Jakarta, Selasa (28/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diungkapkan Eddy, kejatuhan seluruh indeks bursa global merupakan fenomena yang memiliki kaitan erat dengan perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan bisa menuju resesi global kedua.
"Untuk itu perlu strategi khusus dalam menghadapi masalah ini, karena ini sifatnya global. Ibarat kata, ombak kita hadang dengan melawan ombak pasti tergulung juga. Kita cari aman saja lah dipinggir pantai," ujar Eddy.
Salah satu strategi yang dilakukan BEI dalam menghadapi kejatuhan bursa global adalah merevisi batas penolakan otomatis (auto rejection) menjadi sebesar 10%. Sebelum direvisi, batas atas maupun bawah auto rejection sebesar 30%.
"Memang banyak alternatif yang ada, tapi semua kan ada plus minusnya. Kita pilih lah yang risikonya paling kecil. Batas baru auto rejection diharapkan bisa menjaga tingkat confident investor agar tidak panik," kata Eddy.
Meski kenyataannya investor tetap panik dan terus memberikan tekanan jual yang sangat tinggi, namun pembatasan auto rejection 10% cukup menahan laju penurunan IHSG. Terutama jika dibandingkan dengan penurunan indeks-indeks regional selama beberapa pekan terakhir. (dro/ir)











































