Rupiah dan IHSG Masih Terluka

Sesi Siang

Rupiah dan IHSG Masih Terluka

- detikFinance
Selasa, 28 Okt 2008 12:16 WIB
Rupiah dan IHSG Masih Terluka
Jakarta - Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terluka karena tertebas penurunan yang tajam akibat buruknya pasar finansial global saat ini. Namun pelemahannya sudah mulai berkurang.

Pada penutupan perdagangan saham sesi I, Selasa (28/10/2008) IHSG kembali merosot hingga 55,374 poin (4,75%) ke posisi 1.111,035 yang terendah sejak akhir 2005. Pada pembukaan perdagangan pagi IHSG sempat melemah hingga 70 poin lebih.

Sedangkan rupiah pada perdagangan pukul 12.00 WIB, berdasarkan data CNBC melemah 251 poin ke posisi 11.000 per dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rupiah sempat melemah hingga 1.101 poin ke posisi 11.850 per dolar AS, namun pelemahannya berkurang karena sejumlah bursa saham Asia mulai rebound.

Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 22.833 kali, dengan volume 9,167 miliar unit saham, senilai Rp 1,637 triliun. Sebanyak 24 saham naik, 126 saham turun dan 28 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 250 menjadi Rp 5.100, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 menjadi Rp 3.950, Indosat (ISAT) turun Rp 150 menjadi Rp 4.850, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 110 menjadi Rp 1.230, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 275 menjadi Rp 2.675 dan Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 200 menjadi Rp 2.000.

Di tengah penurunan harga saham, beberapa emiten sudah mengalami kenaikan harga seperti Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 40 menjadi Rp 890, Timah (TINS) naik Rp 40 menjadi Rp 950 dan International Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 110 menjadi Rp 1.290.

Sementara bursa saham Asia pada sesi siang ini mulai rebound seperti Hang Seng naik 6,13%, KOSPI naik 5,81%, Nikkei naik 2,6%, Taiwan naik 0,78%. Sedangkan bursa saham Singapura atau STI masih turun 5,98% dan Shanghai turun 2,87%. Β 

Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito mengatakan kejatuhan seluruh indeks bursa global merupakan fenomena yang memiliki kaitan erat dengan perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan bisa menuju resesi global kedua.

"Untuk itu perlu strategi khusus dalam menghadapi masalah ini, karena ini sifatnya global. Ibarat kata, ombak kita hadang dengan melawan ombak pasti tergulung juga. Kita cari aman saja lah dipinggir pantai," ujar Eddy disela-sela RUPSLB BEI di hotel Dharmawangsa, Jl Brawijaya, Jakarta, Selasa (28/10/2008). .

Salah satu strategi yang dilakukan BEI dalam menghadapi kejatuhan bursa global adalah merevisi batas penolakan otomatis (auto rejection) menjadi sebesar 10%. Sebelum direvisi, batas atas maupun bawah auto rejection sebesar 30%. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads