Bursa Asia Rebound, IHSG Masih Turun 55 Poin

Bursa Asia Rebound, IHSG Masih Turun 55 Poin

- detikFinance
Selasa, 28 Okt 2008 16:13 WIB
Bursa Asia Rebound, IHSG Masih Turun 55 Poin
Jakarta - Bursa saham Asia akhirnya mengalami rebound (naik) meski pada sesi pagi sempat melemah signifikan. Namun kenaikan bursa saham Asia itu gagal mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Pada penutupan perdagangan saham Selasa (28/10/2008) IHSG masih juga turun 55,019 poin (4,72%) ke posisi 1.111,390. Namun penurunan IHSG sudah mulai tertahan dibanding perdagangan pagi yang sempat anjlok 70 poin lebih.

Indeks LQ-45 turun 11,149 poin (5,12%) menjadi 206,675 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 7,365 poin (4,09%) menjadi 172,710.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan IHSG karena masih dipicu kekhawatiran pelaku pasar akan jatuhnya nilai rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level 11.850 per dolar AS. Namun seiring dengan pelemahan rupiah yang mulai tertahan di 10.800 per dolar AS, IHSG ikut tertahan penurunannya.

Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi cukup tinggi sebanyak 55.497 kali, dengan volume 10,521 miliar unit saham, senilai Rp 17,720 triliun. Sebanyak 39 saham naik, 127 saham turun dan 39 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 5.000, Indosat (ISAT) turun Rp 200 menjadi Rp 4.800, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 130 menjadi Rp 1.210, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 275 menjadi Rp 2.675, Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 175 menjadi Rp 2.025, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 110 menjadi Rp 1.110, dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 800 menjadi Rp 7.300.

Di tengah penurunan harga saham, beberapa emiten sudah mengalami kenaikan harga seperti Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 70 menjadi Rp 920, Timah (TINS) naik Rp 90 menjadi Rp 1.000 dan International Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 110 menjadi Rp 1.290.

Sementara bursa saham Asia pada sesi Selasa sore ini mulai rebound seperti Hang Seng naik 14,35%, KOSPI naik 5,57%, Nikkei naik 6,41%, Taiwan naik 0,76%, STI masih naik 3,13% dan Shanghai naik 2,81%.

Program pembelian kembali saham (buy back) emiten-emiten BUMN yang dicanangkan pemerintah dinilai tidak terlalu efektif pengaruhi pasar. Perlu strategi khusus hadapi krisis bursa global.

"Program buy back BUMN sebetulnya tidak tepat sasaran. Perlu strategi khusus karena dengan kondisi pasar global ini kita tidak mungkin melawan. Apalagi buy back ini hanya untuk BUMN yang kapitalnya besar dan itu sedikit," ujar Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito.

Apa yang dikatakan Eddy cukup beralasan. Sebab, hingga saat ini total dana buy back BUMN yang sudah mengalir ke pasar modal sudah sekitar Rp 80 miliar. Namun hal itu tidak memberi pengaruh besar pada harga saham-saham BUMN. Harga-harga seluruh emiten BUMN yang melakukan buy back tetap anjlok tajam dari hari ke hari.

Namun menurut Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, buy back saham BUMN sudah mencapai Rp 108 miliar.

"Volume buy back hari ini cukup besar, buy back dilakukan dengan tidak melawan pasar, BUMN juga harus melihat harga yang sesuai sebelum melakukan buy back," kata Said di gedung DPR. (ir/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads