Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Antam Alwin Syah Lubis sebelum Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR tentang Setoran BUMN 2009 di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/10/2009).
"Kita sedang menghitung dan mengkaji kemungkinan membeli saham Herald," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembelian saham Herald ini masuk rencana berikutnya setelah proyek Alumina Tayan dan kerjasama pembangunan tambang nikel dengan Jindal," imbuhnya.
Beberapa bulan lalu, Antam gagal meningkatkan saham di Herald akibat kalah bersaing harga dengan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan akhirnya mengundurkan diri. Saat ini BUMI menguasai 29 persen saham milik perusahaan tambang asal Australia tersebut.
Meski begitu, saat ini Antam masih akan fokus pada pembiayaan Alumina Tayan yang pendanaannya diharapkan rampung pada semester pertama 2009.
Sedangkan mengenai proyek Jindal, ia mengatakan sudah sampai tahap kesepakatan membentuk perusahaan baru bernama PT Antam Jindal Stainless Steel dengan nilai investasi US$ 700 juta.
"Saat ini, kami masih melakukan penghitungan pembangunan tambang Nikel di Sulawesi Tenggara. Cadangan nikelnya sekitar 53 juta ton," tandasnya. (ang/ddn)











































