"Yang penting bagi saya, BUMI itu aset bagus, kita butuh batubara. Daripada dibeli asing, mendingan kita yang beli, selama harganya bagus, term-nya baik. Pokoknya b to b dengan harga yang bagus," ujar Menneg BUMN Sofyan Djalil, di kantornya, Jakarta, Kamis (30/10/2008).
PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) selaku induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kini masih melakukan negosiasi untuk penjualan anak-anak usahanya. Menurut Direktur Corporate Secretary BNBR, Sri Darmayanti dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI, Rabu (29/10/2008), proses diskusi penjualan saham anak perseroan yakni BUMI dan Energi Mega Persada masih berlangsung hingga saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sofyan mengakui bahwa dirinya sudah mendengar bahwa PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) kini sedang melakukan pembahasan dengan BUM.
"PTBA, saya dengar mereka yang berminat, tapi saya dengar juga ada BUMN yang berminat ikut konsorsium. Tapi sampai sekarang belum ada yang pasti. Itu kan tindakan korporasi, kalau sudah final, baru mereka lapor ke kita," tegas Sofyan.
Menurut Sofyan, kemungkinan BUMN yang menawar BUMI akan menggandeng pihak lain. Namun Sofyan mengaku tidak tahu konsorsium mana yang akan digandeng BUMN untuk membeli BUMI.
Sofyan menegaskan, jika sampai konsorsium BUMN tersebut bisa mendapatkan BUMI, maka itu berarti sangat bagus. "BUMI itu batubaranya bagus sekali, kalorinya di atas 6.000, jumlah cadangannya banyak. Cuma karena banyak utang aja dia," tegasnya.
Ia menambahkan, jika PTBA membeli saham BUMI, maka dananya akan berasal dari dana sendiri bukan dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
"Dananya sendiri atau dana dari leverage mereka sendiri. PIP bukan buat itu. PIP itu untuk buy back BUMN, atau kalau nggak digunakan akan digunakan untuk tujuan investasi lain, kita nggak tahu. Artinya secara teori, PIP itu tergantung keputusan Menkeu," jelasnya. (qom/ir)











































