Sayangnya, Presiden Director BUMI Ari S Hudaya enggan mengungkapkan berapa harga pembelian saham BUMI per lembarnya. Ia hanya mengungkapkan, saat ini jumlah saham yang beredar adalah 19,404 miliar lembar saham.
"Kalian tinggal bagi saja, tinggal hitung. Itu kan 35%, nah jumlah saham yang diterbitkan BUMI 19,404 miliar, dikali 35 persen. Kan dapat jumlah sahamnya, tinggal US$ 1,3 miliar dibagi angkanya," jelas Ari dalam konferensi pers di lobi Wisma Bakrie II, Jakarta, Sabtu (1/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua asumsi kurs tersebut masih menggambarkan bahwa harga saham BUMI yang dijual ke Northstar Pacific masih lebih rendah dari harga pasar. Pada penutupan perdagangan Senin, 6 Oktober 2008, harga saham BUMI adalah Rp 2.175. Itu adalah harga terakhir, karena pada perdagangan Selasa, 7 Oktober, saham BUMI disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia hingga Jumat, 30 Oktober lalu.
Harga ini juga berarti jauh dibandingkan dengan harga tertinggi saham BUMI yang pernah mencapai Rp 8.500 per lembar pada 9 Juni 2008. Harga itu juga lebih rendah dari harga IPO sebesar Rp 4.500.
Mengenai pemilihan Northstar, Ari mengatakan bahwa pertimbangan paling utama adalah masalah harga. Menurutnya, ada sejumlah BUMN juga yang pernah mengajukan penawaran, namun akhirnya Northstar yang dipilih karena harganya dianggap paling bagus.
"Kami dari manajemen ingin menyelesaikan lebih cepat (transaksi ini) untuk memberikan nilai bagi pemegang saham dan peruisahaan. Transaksi dokumen sudah diteken tadi malam, yang membeli adalah Nortstar Pacific," jelas Ari dalam konferensi pers singkatnya.
Ia menambahkan, Northstar Pacific masih membutuhkan waktu sekitar 21-28 hari untuk mempelajari dokumen-dokumennya.
"Masih banyak dokumen yang harus diselesaikan kita tetap bekerja terus. Ini pasti closing, mungkin yang bisa berubah itu price, ada price adjustment," jelasnya.
(qom/qom)











































