Penggerak Pasar Saham Pekan Ini

Penggerak Pasar Saham Pekan Ini

- detikFinance
Senin, 03 Nov 2008 06:45 WIB
Penggerak Pasar Saham Pekan Ini
Jakarta - Pasar saham telah meninggalkan hari-hari buruk selama bulan Oktober, dan siap melangkah menuju November yang lebih baik. Sejumlah sentimen positif diharapkan bisa mendorong pasar saham ke arah yang semakin baik.

Sepanjang Oktober ini, pasar saham baik global maupun lokal jatuh bangun dan sempat menembus titik terburuknya sejak era Great Depression 79 tahun silam. Namun saham-saham di Wall Street akhirnya bisa menutup bulan Oktober pada jalur hijau.

Pada perdagangan Jumat (31/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 144,32 poin (1,57%) ke level 9.325,01. Nasdaq juga menguat 22,43 poin (1,32%) ke level 1.720,95 dan indeks Standard & Poor's 500 naik 14,66 poin (1,54%) ke level 968,75.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara IHSG di Bursa Efek Indonesia pada akhir Oktober lalu menguat signifikan setelah auto rejection batas atas dibuka hingga 20%. IHSG ditutup menguat 82,841 poin (7,06%) ke level 1.256,704. Indeks LQ 45 naik 18,587 poin (8,34%) ke level 241,352.

Penguatan sepanjang pekan lalu terjadi setelah Bank Sentral dari berbagai belahan dunia menjalin kerjasama untuk meredakan masalah kesulitan likuiditas. Termasuk kesepakatan swap yang dilakukan para bank sentral.

Apa saja sentimen lokal sepanjang pekan ini?
  • Senin, 3November 2008: Pengumuman angka inflasi oleh Badan Pusat Statistik.
  • Kamis, 6 November 2008: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menentukan angka BI Rate.
  • Keluarnya sejumlah laporan keuangan emiten.

Sementara sentimen global yang bisa mempengaruhi pergerakan harga saham adalah:

Pemilu AS pada Selasa, 4 November 2008. Investor berharap setelah pemilu akan ada paket stimulus fiskal baru ataupun peraturan baru untuk menyelesaikan krisis finansial di AS.

Jumat, 7 November 2008: Rilis data pengangguran AS. Angka ini diharapkan mampu memberikan arah perekonomian AS: sudah membaik ataukah semakin dalam berada di jurang resesi.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads