Indeks S&P 500 Tembus Lagi 1.000

Indeks S&P 500 Tembus Lagi 1.000

- detikFinance
Rabu, 05 Nov 2008 06:40 WIB
Indeks S&P 500 Tembus Lagi 1.000
New-York - Saham-saham di Wall Street mencatat kenaikan besar menyambut pemilihan presiden di AS. Pilpres ini diharapkan akan segera mengakhiri segala ketidakpastian.

Kenaikan harga saham-saham energi, setelah kenaikan tajam harga minyak membuat perdagangan saham bergairah. Sementara indeks Standard & Poor's 500 untuk pertama kalinya sejak 13 Oktober kembali menembus level 1.000.

Pada perdagangan Selasa (4/11/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 305,45 poin (3,28%) ke level 9.625,28.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks S&P 500 naik tajam 39,45 poin (4,08%) ke level 1.005,75 dan Nasdaq naik 53,79 poin (3,12%) ke level 1.780,12.

Kenaikan harga saham yang bertepatan dengan pemilu ini adalah merupakan yang terbesar. Kenaikan terbesar saat pemilu terjadi pada tahun 1984, untuk Standard & Poor's 500.

Namun perdagangan saham di New York Stock Exchange sangat tipis, dengan hanya 1,31 miliar lembar saham berpindah tangan. Angka ini di bawah rata-rata tahun lalu, dengan 1,90 miliar lembar saham yang berpindah tangan. Sementara di Nasdaq, 2,34 miliar lembar saham diperdagangkan, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 2,17 miliar.

Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (5/11/2008), kenaikan harga saham juga dipicu oleh sentimen positif dari pernyataan Depkeu AS tentang membaiknya kondisi setelah program injeksi ke pasar finansialnya.

Kenaikan indeks Dow Jones juga dipicu oleh membaiknya saham GE. Kabar bahwa pemerintah AS akan kembali menyuntikkan modal ke GE Capital, CIT Group dan lain membuat saham-saham naik tajam. Saham MasterCard, tercatat juga naik tajam hingga 18,3%.

Saham Chevron memimpin penguatan di Dow Jones, dengan kenaikan tajam hingga 6,62 dolar atau sekitar 10,4% ke level US$ 70,53 per barel.

Dari semua sentimen itu, maka pilpres AS merupakan hal yang paling ada di benak para investor. Dua kandidat yakni Barack Obama dan John McCain masih bersaing ketat.

"Akan ada pemimpin baru besok dan siapapun orangnya, dia harus lebih baik dari yang sekarang," tegas Jim Paulsen, chief investment office Wells Capital Management.



(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads