Antrean Jual Saham BUMI Cetak Rekor Dalam Sejarah Bursa

Antrean Jual Saham BUMI Cetak Rekor Dalam Sejarah Bursa

- detikFinance
Kamis, 06 Nov 2008 11:06 WIB
Antrean Jual Saham BUMI Cetak Rekor Dalam Sejarah Bursa
Jakarta - Antrean investor yang akan menjual saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) setelah disuspensi selama 20 hari mencapai rekor dan merupakan salah satu antrean jual terbanyak dalam sejarah bursa.

Antrean penjualan saham BUMI mencapai 10,11% dari total saham dalam Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh.

Pada pukul 10.30 JATS, total antrean saham yang akan dijual sebanyak 3.923.722 lot atau 1.961.861.000 saham. Jumlah tersebut sama dengan 10,11% saham BUMI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah antrean menumpuk pada harga terendah yang dapat diperdagangkan hari ini, Kamis (6/11/2008) di level Rp 1.975. Pada level tersebut jumlah antrean mencapai 3.874.615 lot atau sebanyak 1.937.307.500 saham. Jumlah tersebut setara dengan 9,98% dari seluruh saham BUMI.

Pada penutupan sebelum suspensi, harga BUMI berada di level Rp 2.175. Pada pembukaan hari ini, harga saham BUMI langsung anjlok tajam ke level Rp 1.975, turun Rp 200 (9,19%).

"Antrean sebanyak ini merupakan salah satu antrean jual terbanyak dalam sejarah bursa," ujar analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikFinance, Kamis (6/11/2008).

Menurut Mastono, beberapa faktor menyebabkan aksi jual tersebut. Selain faktor individu saham BUMI, penurunan juga didorong oleh penurunan indeks-indeks regional.

"Memang pembukaan BUMI yang menurun tajam beriringan dengan penurunan indeks-indeks regional, selain faktor individu saham BUMI tentunya," ujar Mastono.

Selain itu, faktor pembatalan pencabutan suspensi BUMI kemarin, Rabu (5/11/2008) juga berpengaruh pada sentimen negatif saham BUMI.

"Pembatalan kemarin menambah simpang siur informasi, ditambah masih belum jelasnya negosiasi antara calon-calon pembeli BUMI," ujar Mastono.

Melihat besarnya antrean jual ini, Mastono mengatakan kemungkinan besar penurunan masih akan terus terjadi selama beberapa hari perdagangan ke depan.

"Penurunan bisa berlanjut beberapa hari ke depan. Namun kita harapkan Senin bisa mulai naik setelah rehat libur weekend," ujarnya.

Kendati tekanan jual masih cukup besar, Mastono mengatakan tingkat pembelian juga masih terlihat. Hanya saja tidak melalui pasar reguler.

"Kalau diperhatikan di running trade, cukup banyak aksi pembelian BUMI di crossing board dan pasar negosiasi hari ini," ungkap Mastono. (dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads