Pemegang Repo Saham BUMI Minta Prioritas Pelunasan

- detikFinance
Jumat, 07 Nov 2008 14:32 WIB
Jakarta - Pemegang repo saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang bukan melalui PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menuntut dana penjualan BUMI diprioritaskan untuk melunasi repo Rp 6,3 triliun yang sudah jatuh tempo.

Investor pemegang repo khawatir, penyelesaian transaksi penjualan 35% saham Bumi Resources belum tentu menyelesaikan masalah gadai saham (repo) grup Bakrie. Sebab penjualan BUMI hanya mampu meraup US$ 1,3 miliar, sedangkan utang repo grup Bakrie mencapai Rp 19,075 triliun.

"Kami menuntut agar dana penjualan BUMI digunakan untuk melunasi repo kami terlebih dahulu karena sudah jatuh tempo. Kalau repo BNBR pada 10 kreditornya kan jatuh temponya masih banyak yang tahun 2009 dan 2010," ujar sumber detikFinance yang memegang repo BUMI saat dihubungi, Jumat (7/11/2008).

Ia menjelaskan, selain sisa repo BNBR yang masih harus dilunasi berikut bunga senilai Rp 12,775 triliun, masih ada saham-saham grup Bakrie yang digadaikan senilai Rp 6,3 triliun.

"Repo itu dilakukan oleh 4 perusahaan afiliasi grup Bakrie yang non listed," ungkap sumber tersebut.

Empat perusahaan yang dimaksud menggadaikan sejumlah portofolionya di anak-anak usaha BNBR, termasuk BUMI kepada banyak institusi seperti yayasan dana pensiun, asuransi, reksa dana dan investor ritel individu. Sumber detikFnance ini termasuk yang memegang repo yang dilakukan oleh 4 perusahaan tersebut.

"Setahu saya total nilai repo yang dilakukan 4 perusahaan ini sekitar Rp 6,3 triliun dan kebanyakan sudah jatuh tempo," jelas sumber tersebut.

Menurutnya, jumlah nasabah yang menerima repo Rp 6,3 triliun ini sangat besar jumlahnya dan tersebar di berbagai kota-kota besar di Indonesia. "Jadi jika sampai gagal bayar bakal banyak orang yang merugi dalam jumlah cukup besar," ujarnya.

Saat ini, ia menjelaskan, para pemegang repo sedang melakukan negosiasi untuk restrukturisasi dan menjadwalkan kembali pelunasan. Meski banyak yang sedang menegosiasikan ulang, menurut sumber tersebut terdapat kekhawatiran potensi gagal bayar masih sangat besar. Sebab penjualan BUMI hanya mampu meraup US$ 1,3 miliar, sedangkan utang repo grup Bakrie mencapai Rp 19,075 triliun.

"Meski pun sebenarnya kami memegang repo yang bukan melalui BNBR. Namun kalau bisa dana penjualan BUMI digunakan untuk membayar repo kami lebih dulu, karena hampir semua sudah jatuh tempo. Kami minta diprioritaskan," ujarnya.

Mengacu pada apa yang dikatakan sumber tersebut, artinya penjualan BUMI belum memberi kepastian grup Bakrie terbebas dari masalah gagal bayar.

Meski penjualan BUMI senilai US$ 1,3 miliar dapat membebaskan BNBR dari masalah gagal bayar,
namun repo 4 perusahaan afiliasi grup Bakrie sebesar Rp 6,3 triliun masih menunggu mekanisme penyelesaian yang pasti.

"Apalagi repo Rp 6,3 triliun ini dipegang oleh dana pensiun, asuransi, reksa dana dan ritel. Jika gagal bayar bakal banyak institusi yang ambruk," ujarnya.

Penjualan BUMI pada konsorsium Northstar Pacific-Texas Pacific Group maksimal senilai US$ 1,3 miliar. Harapan pelunasan repo grup Bakrie boleh jadi bisa dilakukan dengan menerima tawaran San Miguel, perusahaan makanan asal Filipina, yang berminat mengakuisisi BUMI sebanyak 51%.

Opsi lainnya adalah penjualan 40% saham BNBR dalam PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang saat ini sedang dalam proses negosiasi. Mengacu pada harga penutupan ENRG sebelum suspensi di level Rp 350, nilai penjualan 5.760.325.350 (40%) saham ENRG bisa meraup Rp 2,016 triliun yang cukup membantu pelunasan repo Rp 6,3 triliun.

(dro/ir)