Danareksa tetap merekomendasikan beli untuk saham tambang ini. Price earning atau P/E Timah diprediksi mencapai 5,3 kali di tahun 2008 dan 12,1 kali di tahun 2009.
Sementara pada perdagangan saham sesi I pukul 10.30 WIB, Selasa (11/11/2008) harga saham Timah naik Rp 20 menjadi Rp 1.240 per saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga timah dunia saat ini dinilai sudah sangat rendah dan tidak masuk akal mengingat tipisnya inventory timah di London Metal Exchange.
Perlambatan ekonomi (sebagaimana dapat diindikasikan oleh harga minyak) menjadi salah satu sentimen negatif pemicu penurunan harga timah yang tidak wajar.
Sementara nilai tukar dolar AS yang terus menguat menjadikan harga timah menjadi relatif lebih mahal sehingga mendorong para pembeli atau investor menunda belanja timahnya.
Padahal kondisi penurunan harga timah seharusnya sudah tidak terjadi lagi karena China dan Indonesia --dua produsen timah terbesar di dunia-- tengah mengurangi produksi timah tahun ini.
China: Produsen terbesar timah di dunia, Yunnan Tin Co. (YTC) sudah memutuskan untuk mengurangi produksi hingga 30% pada triwulan IV-2008. Pada bulan Agustus 2008, YTC
harus menutup salah satu pabriknya sehingga pasokan sebanyak 3.000 ton tidak terpenuhi. Target produksi tahun ini yang pada awalnya diperkirakan sebanyak 60.000-70.000 ton tidak akan tercapai.
China sendiri sudah mencanangkan untuk mengurangi kuota ekspor tahunannya dari 37.000 ton di tahun 2007 menjadi 33.300 ton (tahun ini) dan 23.300 ton (2009).
Indonesia: Output timah tahun 2008 akan dikurangi menjadi 80.000 ton dari sebelumnya 100.000 ton. Sementara itu produksi oleh penambang liar terhenti akibat rendahnya harga timah dan keberhasilan polisi dalam melakukan penyergapan ke lahan-lahan penambangan liar. Upaya TINS mengurangi pembelian pasokan timah dari penambang liar dan berkonsentrasi pada penambangan sendiri akan membantu meningkatkan profitabilitas TINS.
Pasokan dari negara produsen lainnya seperti Bolivia dan Kongo mengalami ketersendatan karena terjadinya konflik dalam negeri di masing-masing negara tersebut. Tahun ini defisit pasokan diperkirakan mencapai 20.700 ton, naik signfikan dibandingkan tahun lalu yang mencapai 2.500 ton.
Dengan mengacu pada kondisi akhir 1970-1980-an di mana saat itu inventory juga menyusut sementara pasokan terbatas sehingga harga riil timah (harga yang sudah disesuaikan dengan faktor inflasi) dapat mencapai level US$ 35.000 per ton, tidak mustahil bahwa harga riil timah dalam waktu dekat pun akan naik signifikan.
Dalam nilai dolar AS, harga saham TINS masih rendah bahkan ketika harga timah sudah mulai meningkat. Danareksa memperkirakan harga saham TINS juga akan menyusul kenaikan yang terjadi pada harga timah. (ir/qom)











































