Dalam keterbukaan informasinya, Direktur BUMI, Ari Saptari Hudaya mengungkapkan, pihaknya sedang menyiapkan buy back atau pembelian kembali saham senilai Rp 8,246 triliun.
"Perseroan akan menyisihkan dana buy back sebesar Rp 8,246 triliun (US$ 824,67 juta) dan diperkirakan akan terjadi penurunan laba bersih sebesar US$ 132,2 juta dalam kurun waktu 3 tahun," ujar Ari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investor sendiri masih belum paham benar darimana BUMI akan memiliki dana untuk buy back. Namun pasar menyimpulkan keinginan buy back itu sebagai sebuah keinginan dari Bakrie untuk tetap menguasai BUMI.
"Saya tidak tahu ini untuk mendongkrak harga sahamnya atau apa. Setahu saya BUMI tidak punya kas sebanyak itu," ujar pengamat pasar modal Edwin Sinaga.
BUMI memang kini menjadi salah satu aset paling berharga bagi grup Bakrie. Dengan kapitalisasi pasar hingga Rp 25,04 triliun dan produksi batubara yang kini terbesar di Indonesia, siapapun pasti tak ingin melepas BUMI.
BUMI memang salah satu kontributor yang besar bagi pundi-pundi grup Bakrie. Hingga semester I-2008, BUMI berhasil membukukan laba bersih hingga US$ 436,8 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun. Perolehan laba tersebut berarti naik hingga 150% dibandingkan semester I-2007, terutama berkat naiknya harga batubara.
Meski sahamnya kini terus turun dan tinggal Rp 1.070 per lembar, namun prospek kinerja BUMI dipandang masih cukup prospektif. Jadi, wajar saja jika memang Bakrie tak rela melepasnya. (qom/ir)











































