Pelemahan Rupiah Masih Oke

Pelemahan Rupiah Masih Oke

- detikFinance
Jumat, 14 Nov 2008 15:55 WIB
Pelemahan Rupiah Masih Oke
Jakarta - Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Namun bagi pemerintah, pelemahan rupiah ini masih 'oke' dibandingkan mata uang lokal lainnya.

Demikian disampaikan Menkeu ad interim Sofyan Djalil usai salat Jumat di Gedung Garuda, Jakarta, Jumat (14/11/2008).

"Melemahnya rupiah, jangan hanya melihat dari satu perspektif, tapi lihat dari perspektif luas. Korea yang punya US$ 500 miliar di neracanya, dan mata uangnya melemah sampai 39 persen, sementara Rupiah kita baru melemah 19 persen, jadi masih oke," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal serupa disampaikan Wapres Jusuf Kalla usai salat Jumat di kantornya. Menurut Wapres, pelemahan nilai mata uang lokal juga terjadi di beberapa negara sebagai akibat likuiditas yang menyusut.

"Karena di seluruh dunia dolar mengering. Karena mengering orang susah cari dolar AS. Maka kurs lokal melemah, ini hanya supply demand saja. Tidak ada yang bisa menekan," katanya.


Zero Tolerance


Meski terjadi di hampir semua negara, namun Sofyan menegaskan pemerintah tetap waspada mengawasi pelemahan rupiah. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah tidak akan mentolerir kesalahan sedikit pun, termasuk yang berasal dari rumor-rumor yang beredar.

"Dalam kondisi yang labil seperti saat ini, zero tolerance untuk kesalahan. Semua rumor harus ditanggapi serius oleh pemerintah. Kami akan selalu aware," kata Sofyan.

Kondisi Rupiah saat ini sebetulnya sudah agak terbantu dengan turunnya harga minyak mentah. Turunnya harga minyak mentah membuat belanja valas Pertamina menurun tajam hingga terpangkas lebih dari setengahnya. Pertamina merupakan pembelanja valas terbanyak yang digunakan untuk mengimpor minyak mentah dan BBM.

"Dulu waktu harga minyak di kisaran US$ 140 per barel, belanja dolarnya mencapai US$ 3 miliar per bulan. Kalau saat ini harga minyak turun jadi US$ 60 per barel, kebutuhan Pertamina nggak sampai setengahnya. Dan untuk itu Pertamina langsung ke BI supaya nggak pengaruhi pasar," ujarnya.
(lih/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads