Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini sangat ragu-ragu, pada kisaran yang tipis. Penurunan tajam terjadi pada perdagangan Kamis, setelah Wall Street mencatat penurunan terbesar. Berikut pergerakan IHSG sepekan:
- Senin, 10 November: IHSG ditutup naik tipis 2,321 (0,17%) ke level 1.340,681.
- Selasa, 11 November: IHSG turun 4,124 poin (0,31%) menjadi 1.336,557.
- Rabu, 12 November: IHSG turun 9,936 poin (0,74%) menjadi 1.326,621.
- Kamis, 13November: IHSG anjlok 66,908 poin (5,04%) menjadi 1.259,713.
- Jumat, 14 November: IHSG naik tipis 4,664 poin (0,37%) menjadi 1.264,377.
Panin Sekuritas dalam review IHSG-nya menyatakan, IHSG sepanjang pekan ini bergerak melemah -5.53% ditutup pada level 1.264.38. Sementara pada perdagangan hari Jumat, pergerakan IHSG tertahan oleh terus melemahnya nilai tukar rupiah dan pergerakan saham BUMI yang fluktuatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga crude oil terus merosot menembus level $60/barel, bahkan sempat menyentuh level terendah di $55/barel. Berbagai data makro ekonomi dari China dan Eropa juga mengarah pada resesi global.
Sementara pekan ini, fokus investor dalam negeri selain perkembangan bursa regional, juga pergerakan rupiah yang terus terpuruk menuju level tahun 1998. Pekan lalu BI bahkan menerbitkan peraturan pembatasan pembelian valas guna mencegah terus merosotnya nilai tukar rupiah.
Perkembangan saham BUMI dan grup Bakrie lainnya juga masih akan menyita perhatian investor. Secara teknikal, IHSG terlihat tengah bergerak dalam pola sideways dalam jangka pendek. Minimnya sentimen positif menyebabkan sulit bagi IHSG untuk rebound lebih lanjut. Kisaran support-resistance 1.200-1.290.
(qom/qom)











































